Matahari kota Padang tampil penuh percaya diri siang itu. Saya, dan beberapa rekan kerja saya hendak meninggalkan kota Padang, pulang ke Jakarta. Dan sebelum terbang kembali ke Jakarta, kami menyempatkan waktu untuk menikmati makan siang di Pantai Padang.

Koordinator tim kerja saya adalah seorang ékstrovert, ia bisa meledak di hadapan siapa pun yang mengusik émosinya. Siang itu, manajer hotél tempat kami menginap jadi korbannya. Ketelédoran pihak administrasi membakar émosinya - seperti juga matahari Padang membakar kami. Kami tinggalkan hotél bintang lima siang itu tanpa kesan bintang. Fasilitas méwah ternyata tidak selalu disertai oleh pelayanan yang memuaskan. Dua malam di hotél tersebut saya terus berpikir, untuk apa semua keméwahan itu? Setiap tamu hotél, pada umumnya, adalah para pecandu kerja - dan para pecandu kerja adalah orang-orang yang seringnya abai pada jatah istirahat meréka, apalagi pada fasilitas dalam hotél tempat meréka menginap . Ranjang empuk yang selalu mengundang rasa kantuk, televisi layar datar dengan belasan saluran internasional, dan kamar mandi layak-tinggal - kamar mandi tersebut lebih layak-tinggal dibandingkan dengan kamar kos-kosan saya - itu hanya tinggal jadi keméwahan yang sia-sia belaka. Sementara di bawah rel Cikini masih banyak orang tidur di dalam gerobak sampah, di hotél-hotél berbintang, ranjang-ranjang lux seharga sepeda motor tersebut diabaikan.

Lokasi Pantai Padang tidak terlalu jauh dari hotél. Padang dikelilingi oléh bukit, dan dibatasi laut di sebelah barat. Barangkali ini yang membuat kota Padang berudara panas. Pada hari pertama saya tiba di Padang, dengan menyaksikan bukit-bukit yang mengelilingi kota itu melalui jendela pesawat, saya kira kota Padang adalah sebuah kota yang sejuk, tapi ternyata, udara Padang sangat panas, dan seturunnya saya dari pesawat, tidak lama kemudian baju saya sudah basah oléh peluh. 

image

                                           Pantai Padang

Pemandangan rumah makan di Pantai Padang cukup menarik. Ombak menari-nari di bawah matahari, menantang segerombolan karang yang menahan mereka untuk tidak menyérang jalanan. Sembari menunggu makan siang disajikan, kami turun ke pantai. Sebagian dari kami jatuh cinta pada alam, pada laut, tapi saya lebih tertarik pada manusia, pada para nelayan yang baru pulang dari laut. Sebuah perahu nelayan baru tiba. Seorang nelayan, dibantu putranya, menarik perahu mereka ke darat. Satu demi satu nelayan lain turun, turut membantu si nelayan dan anaknya, mengangkat badan perahu ke daratan. Dibutuhkan kurang lebih delapan orang untuk mendaratkan perahu tersebut di pantai. Satu-dua-tiga! Dan terdengar lenguhan nafas meréka bersama-sama menahan beban perahu tersebut. Beberapa dari meréka mengambil batang-batang pohon kelapa untuk digunakan sebagai roda, agar perahu berat tersebut lebih mudah didorong ke darat. Selesai perahu ditambatkan, seorang pria bertubuh tinggi besar, dengan jakét parasut, dan celana panjang, menghampiri para nelayan - yang sebagian bertelanjang dada, dengan celana pendek rombéng meréka, dan tubuh gosong oléh karena terpanggang matahari sepanjang hari. Hasil tangkapan dibuka. Astaga! di émbér di dalam perahu tersebut hanya ada beberapa ekor ikan berukuran kecil saja. Si pria berjakét parasut menawar harga, dan para nelayan mengiba. Dibawanya émbér berisi ikan-ikan kecil itu ke pinggir jalan. Saya bertanya pada salah seorang dari nelayan tersebut, berapa harga yang dibayar oleh si pria berjakét parasut. Si nelayan menjawab dengan bahasa Padang yang tidak saya mengerti. Barangkali ia menyadari muka saya tampak tolol, kemudian ia alihkan kata-katanya ke dalam bahasa Indonésia. Ikan-ikan itu laku enam puluh ribu rupiah. Nelayan itu nombok, karena untuk bahan bakar perahunya saja, ia membutuhkan seratus ribu rupiah. 

image

                       Nelayan dan anaknya baru pulang melaut

Nelayan itu berangkat ke laut selepas shalat subuh. Saya berada di sana pada pukul dua siang! Itu berarti, ia harus bertahan di bawah matahari di tengah laut, kurang lebih, selama empat jam! Dan matahari Padang panasnya bukan main - itu di daratan, apalagi di laut. Dan untuk kerja kerasnya itu, si nelayan malah harus nombok empat puluh ribu rupiah! Untuk menghargai hasil tangkapan hari itu dengan harga lebih dari enampuluh ribu rupiah pun, saya rasa, terlalu berlebihan. Tapi bagaimana kelanjutan hidup nelayan-nelayan tersebut, jika setiap hari meréka harus nombok, adalah juga sebuah pertanyaan. Ke mana semua ikan besar di laut? Kenapa para nelayan itu hanya mampu menangkap beberapa ikan kecil saja sepanjang hari? Apakah réstoran-réstoran yang berjajar di sepanjang Pantai turut memberi upah? Di tangan réstoran, kan, ikan-ikan itu bisa naik berkali-kali lipat harganya.

Hujan turun menjelang maghrib. Beruntung, saya telah berada di ruang tunggu bandara Minangkabau. Salah seorang teman kami membawa empat butir telur penyu yang ia beli di pinggir jalan. Ia menawarkannya pada Mark, rekan kerja kami asal Australia. Telur penyu itu ilegal, kata teman kami. Jika kamu tahu itu ilegal, kenapa kamu beli? tanya Mark. Ya, karena telur-telur itu dijual di pinggir-pinggir jalan, jawab teman saya. Jika ada penjualnya, kenapa tidak dibeli? Ya, orang-orang seperti kamu itu yang bikin para penjual itu ada, kata Mark. Yup! jawaban yang paling kerén menurut saya. Penyu adalah binatang yang (secara hukum tertulis) dilindungi oleh negara. Dan yang paling anéh, teman kami itu tahu betul, ada undang-undang yang mengatur perlindungan populasi penyu. Banyak di antara kita tahu, tapi sedikit saja yang mau tahu, pada hukum dan undang-undang di negara ini. It’s Indonésian’s style, you know?! kata Mark. Dan kata-kata itu terus diucapkannya ketika ia melihat/mendengar inkompeténsi masyarakat Indonésia dalam menerapkan peraturan-peraturannya sendiri. Mark sempat bertanya perihal manfaat mengkonsumsi telur penyu pada teman saya. Kata teman saya, telur penyu berkhasiat meningkatkan stamina. Bullshit! Sekarang saya tanya, berapa umur kamu? tanya Mark. Teman saya tersebut berumur dua puluhan paruh awal. Baik, di umur semuda itu kamu sudah membutuhkan penambah stamina? Tanya Mark. Mampus! 

image

                              Telur Penyu yang jadi polémik

Pesawat kami datang terlambat. Kami terbang ke Jakarta pada sekitar pukul 19.30 WIB. Saya tidak punya banyak waktu luang, untuk menikmati kota Padang, karena pekerjaan saya ternyata menyita waktu hampir satu hari penuh. Sampai jumpa tanah Minang, tanahnya Siti Nurbaya! 

Jakarta, 2013

Bagus Purwoadi

Tak Ada Cinta di Studio

Printmaking atau seni cetak adalah sebuah proses. Ia belum memiliki definisi yang final, walaupun wacana soal ini bukannya jarang dibicarakan. Sifat-sifat khusus seni cetak - yang membedakannya dengan karya dwimatra lainnya - tidak sampai dengan baik ke masyarakat. Maka, masyarakat masih melihat karya cetak tak ubahnya melihat sebuah karya lukisan.

Saya tidak suka menyebut seni cetak sebagai seni grafis. Dihadapkan pada namanya, pemahaman perihal seni cetak akan terjebak pada pemahaman masyarakat (luas) tentang desain grafis. Tapi menghadapkan masyarakat pada fisik karya pun tak banyak membantu. Karya dwimatra yang mendinding masih disebut sebagai lukisan.

Sebelum membangun pandangan masyarakat, adalah lebih baik untuk meninjau pandangan para akademisinya terlebih dahulu, mengenai seni cetak itu sendiri. Seni cetak, sebagai sebuah proses, masih terlalu sering diabaikan oleh akademisi di selingkung saya.

Saya melihat, sifat reproduktif dari seni cetak masih belum bisa dipandang sebagai sebuah kelebihan. Disiplin edisi adalah momok bagi mahasiswa (seni grafis). Sepuluh (-atau lebih) edisi/cetakan untuk setiap karya masih dipandang sebagai beban, dan bukannya sebagai proses pembelajaran. Seharusnya kita bisa mengambil banyak pelajaran dari disiplin edisi, karena setiap edisi dalam karya seni cetak merekam sebuah proses. Dan bukankah proses adalah hal yang wajib dalam study?

Dalam seni cetak, ada cetakan yang disebut Artist’s proof/ AP atau cetak coba. Dalam AP, kita bisa melihat kelebihan pun kekurangan dalam (pra) karya cetak kita. Hal ini perlu untuk proses evaluasi, agar karya cetak kita final dengan maksimal. Tanpa AP, yang juga berarti tanpa evaluasi, karya final kita tak ubahnya hanya sebuah kebetulan semata. Dan seorang akademisi tidak seharusnya berpegang/puas hanya pada sebuah kebetulan.

Kualitas cetak dapat didukung dengan pengetahuan umum soal medium. Pada kenyataannya, sebagian besar mahasiswa tidak memiliki pengetahuan tersebut. Mata kuliah Ilmu Pengetahuan Bahan (IPB) seharusnya mampu menyediakan pengetahuan itu. Tapi, dalam praktiknya, IPB tak lain adalah perpanjangan dari mata kuliah Seni Grafis. IPB hanya mengajarkan hal-hal teknis, yang telah diajarkan pada mata kuliah Seni Grafis. Pada akhirnya pemahaman medium hanya terbatas pada prediksi, dan prediksi hanya akan melahirkan kebetulan (lagi?!). 

Kenapa, pada akhirnya, kebetulan tersebut dapat memuaskan para mahasiswa? Mari menyebrang ke sisi para pengajar. Para pengajar - setidaknya pengajar saya - tidak pernah memperhatikan proses cetak. Mereka hanya perduli pada hasil akhir. Ketika para mahasiswa mampu memenuhi sejumlah karya yang telah disepakati di awal perkuliahan, mereka - para pengajar - tidak memiliki alasan untuk tidak meluluskan mahasiswanya. Sepuluh karya dalam satu semester terpenuhi dan anda lulus! Persetan dengan kualitas cetak, yang penting kuantitas terpenuhi. Dan seringnya, kualitas cetak dari para mahasiswa tidak maksimal, karena mereka hanya sekedar ingin memenuhi kuota karya: para mahasiswa hanya ingin lulus!

Seni cetak berkaitan erat dengan bahan-bahan kimia. Dan bahan-bahan kimia bukanlah jampi-jampi dari nenek moyang yang bisa dicampuradukkan sembarangan berdasarkan kebiasaan turun-temurun. Bahan-bahan kimia memiliki kandungan dan ukuran yang pasti, karena ia adalah produk ilmu pengetahuan ilmiah, bukan mitos! Tapi selama proses study, para pengajar mengarahkan kami untuk menggunakan bahan-bahan kimia dengan hanya berdasarkan pada perkiraan!  - satu banding dua, segelas banding dua gelas, mereka mengabaikan satuan-satuan internasional seperti gram, atau milimeter. Perkiraan tidak pernah pasti, sedang akademi (seharusnya) adalah lembaga ilmu pengetahuan yang dituntut untuk memproduksi dan kemudian mendistribusikan kepastian. Dampak langsung yang bisa saja terjadi pada para mahasiswa adalah malpraktek. Ini adalah sebuah fatalisme. Bahan-bahan kimia adalah bahan-bahan yang sangat berbahaya. Tanpa mengetahui unsur kimia yang terkandung di dalam bahan tersebut, sifat dari bahan-bahan itu pun tak dapat diketahui - parahnya, bahan-bahan kimia, seringnya, memiliki sifat yang destruktif.

Jadi, sebenarnya, mahasiswa seni cetak - di lingkungan akademisi sekitar saya - adalah sekelompok kelinci percobaan. Salah seorang rekan saya pernah memenuhi laboratorium cetak dengan asap asam (acid), yang disebabkan oleh karena salah perkiraan. Dan kepulan asam berwarna kuning tersebut membawa serta serpihan-serpihan tembaga (penggunaan asam dan pelat tembaga terdapat pada praktik teknik etsa - etching). Bayangkan, ketika asap tersebut terhisap masuk dari corong hidung ke paru-paru, serpihan tembaga akan turut masuk dan menyayat membran-membran halus yang terdapat dalam organ tubuh kita. Dengan begitu, kegiatan study tak ubahnya sebuah atraksi self-destruction. Dan ketika percobaan berhasil pun, itu tak lain hanyalah buah dari kebetulan semata. Alfanya satuan internasional dalam eksperimen yang melibatkan kombinasi bahan-bahan kimia tak menjamin keberhasilan yang sama akan terjadi pada praktik berikutnya. Maka akan selalu terdengar keluhan klasik seperti, kemarin bisa, kok, sekarang susah, ya?

Laboratorium seni cetak membutuhkan ahli kimia. Tak jadi masalah jika sang ahli kimia itu tidak memiliki pengetahuan perihal seni rupa, karena masalah yang lebih besar terletak pada ketidaktahuan calon ahli cetak terhadap ilmu kimia. Lagipula, pengetahuan seni rupa bisa didapatkan lewat mata kuliah lain - sejarah seni rupa, antropologi, estetika, filsafat, dsb. Tak hanya ahli kimia, praktik seni cetak, yang melibatkan alat-alat mekanik, pun membutuhkan teknisi yang memiliki pengetahuan yang relevan. Kenyataan yang terjadi dalam laboratorium seni cetak - di tempat saya belajar -  adalah terabaikannya mesin-mesin berat yang memiliki peran yang sangat signifikan dalam proses cetak. Mesin-mesin tersebut tidak pernah sekalipun mendapatkan peremajaan, walau - saya dengar - dana untuk itu ada. Mesin-mesin itu akan dimanjakan hanya ketika mereka rusak. Reparasi hanya menghasilkan perbaikan, bukan peremajaan, mesin-mesin tersebut tidak akan pernah kembali sempurna. Semakin sering direparasi semakin mesin-mesin tersebut invalid. 

Gedung-gedung dipugar kembali, fasilitas-fasilitas remeh temeh, seperti mobil dan motor karyawan, diperbarui, tapi mesin-mesin cetak di laboratorium adalah mesin yang sama dengan yang digunakan oleh mahasiswa angkatan ‘97 - atau mungkin bahkan jauh sebelum itu. Melihat bahwasanya kemajuan teknologi cetak mengalami perkembangan yang seakan tiada ujungnya, bukankah ini adalah sebuah ironi? Laboratorium seni cetak, pada kenyataannya, tak jauh beda dengan gudang artefak seperti museum. 

Tidak ada cinta di laboratorium seni cetak/studio seni grafis. Mahasiswa tak cinta pada bidang yang telah mereka pilih sendiri, mempertanyakan cinta para pengajar terhadap pekerjaannya pun percuma. Mahasiswa hanya ingin lulus, dan para pengajar hanya ingin dapur mereka tetap mengepul. Pada akhirnya seni cetak, bahkan di rumahnya sendiri, di anak-tirikan. Dan dengan demikian, jangan pernah bermimpi, bahwa masyarakat akan memahami, untuk kemudian mencintai seni cetak/grafis.

—Bagus Purwoadi, 2013

Andai Aku Orang Eropa

Tuan, kan aku boleh bertanya? Mengapa Tuan namai sebangsa Tuan dengan sebutan yang menempatkan mereka di posisi yang direndahkan? Kan bangsa Tuan telah berjuang, sejak ratusan tahun lalu, untuk lepas dari penindasan antar Bangsa? Kenapa sekarang, tanpa penjajahan Bangsa asing, Tuan jajah sebangsa Tuan sendiri, walau hanya dalam pikiran? Tuan yang terpelajar, tolong jangan sebut sebangsa Tuan sendiri, alay.

Sudah berapa banyak sastra klasik Tuan bacai? Apakah Tuan gemar menikmati orkestrasi Bach dan merasakan energi dalam denting piano Chopin? Tuan yakin, Tuan tak akan terlelap di tengah-tengah pertunjukan Tari Bedoyo? Tahankah, Tuan, untuk berdiri berjam-jam di depan lukisan Srihadi, merenungi perjalanan spiritual pribadinya?

Aku? Dari ratusan sastra klasik yang terserak di atas Bumi Manusia ini, barangkali hanya seujung kuku saja yang sudah aku bacai. Hanya sekedar membaca. Menikmati? Belum. Aku tak suka Bach, tapi aku suka Chopin, walau tak semua karyanya. Bedoyo? Aku justru seram dengan nuansa mistisnya. Lukisan Srihadi? Bagiku, kenyataan yang ditampilkan oleh lukisan S. Sudjojono lebih menarik. Aku memang udik, bukan ningrat. Tapi aku berusaha memahami segala apa yang Tuan sukai. Agar aku tak jadi benci hanya karena aku tak tahu. 

Ah, ternyata Tuan tak suka baca. Musik klasik pun Tuan tak suka? Bedoyo? Tarian bangsawan Bangsa Tuan sendiri pun Tuan tak tahu? Lukisan? Bahkan berkunjung ke Galeri pun Tuan enggan. Lalu kenapa Tuan rendahkan sebangsa Tuan sendiri hanya berdasarkan dari selera, sedang Tuan sendiri tak lebih “tinggi” dari mereka dalam hal selera? 

Penampilan? Baik, jadi Tuan nilai sesama Tuan berdasarkan penampilan. Tuan nilai sebangsa Tuan yang berbaju warna-warni itu lebih rendah dibandingkan mereka yang berbusana kurang bahan di negri Tuan yang tropis? Tampang kuli bangunan, dan pembantu, kata Tuan? Kan, kuli bangunan dan pembantu rumah tangga itu profesi? Bagaimana polanya, sehingga profesi dapat dijadikan sebagai indikator fisik, dan fisik dijadikan indikator tinggi-rendahnya kebudayaan? Yang Indo pun bisa jadi kuli, Tuan. Bahkan, Jazz, musik yang digandrungi para ningrat profesional [1] Bangsa Tuan itu, diciptakan oleh para budak, kuli tuna upah, lebih rendah kesejahteraan hidupnya dari kuli bangunan, .

Aku ingatkan kembali Tuan, pada kalimat sastrawan sebangsa Tuan yang paling aku sukai:

Kau Pribumi terpelajar! kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar! Kau harus, harus, harus, harus bicara dengan mereka, dengan bahasa yang mereka tahu![2]

Barangkali itu adalah kata-kata paling sederhana yang paling berguna untuk sebangsa Tuan saat ini. Tuan yang terpelajar, menjadikan sebangsa Tuan terpelajar itu wajib hukumnya demi untuk kemajuan Bangsa Tuan sendiri. Kan, Tuan tidak belajar setinggi langit hanya untuk menikmati keenakan-keenakan yang telah dihasilkan oleh ilmu pengetahuan? Jika memang hanya untuk menikmati saja, kan tak perlu Tuan harus sekolah mahal-mahal. Kan, Tuan tidak sekolah hanya untuk merendahkan sesama Tuan yang tidak sekolah? Apalagi melihat tinggi-rendah manusia hanya berdasarkan atas penampilan dan selera. Sedikit demi sedikit Tuan bakal kembali jadi penyembah berhala. Dan itu merupakan sebuah kemunduran peradaban.  

Jika Tuan tak mampu membikin sebangsa Tuan jadi terpelajar, Tolong, Tuan, sekali lagi, tolong, jangan rendahkan mereka dengan menamai mereka, alay. Dengan demikian, Tuan tak jadi (seperti) bangsa kolonial. Bangsa yang oleh Bangsa Tuan sendiri usir ratusan tahun lalu, dengan darah dan penderitaan. Dan Tuan bahkan belum lahir pada saat itu. Tak ikut berjuang. Tak ikut menderita. 

[1]

Pada masa kolonial, ningrat/priyayi profesional, adalah ningrat/priyayi yang mendapatkan kepriyayiannya berdasarkan dari profesi. Bedanya dengan zaman sekarang, para ningrat profesional pada masa kolonial tak sekonyong-konyong menjadi, dan atau hidup, seperti para  priyayi tulen/birokrat, mereka tetap peduli pada sebangsanya yang bukan ningrat, karena mereka memang bukan ningrat. Sekarang? Ya, kita bisa nilai masing-masing, berdasarkan dari apa yang nampak di sekeliling kita. 

[2]

Ucapan Jean Marais, seorang pelukis Prancis, pada Minke, seorang terpelajar Pribumi, dalam roman Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer.

—Bagus Purwoadi, 2013

Surat Dari Kota

Kampung ini terletak tak berjarak dengan sebuah pusat kebudayaan di pusat sebuah kota besar. Kebudayaan adalah pencapaian tertinggi dari cipta, rasa, karsa akal budi manusia. Tapi kampung ini tak ubahnya tempat reservasi bangsa Indian di Amerika, atau bangsa Aborigin di Australia. Manusia-manusianya terpencil dengan cara mereka sendiri. Terpental jauh dari Kebudayaan tinggi yang mengisi agenda berkala di samping tempat mereka buang tai.

Sekiranya aku adalah bagian dari mereka. Dan memang, setelah mengendap tahunan bersama mereka, kau bisa katakan bahwa aku adalah bagian dari mereka. Dan ini yang aku lihat, dengar, dan rasakan.

Beberapa langkah dari tempatku tidur di atas kasur tanpa ranjang, sarang bangsat dan segala serangga penghisap darah, sebuah warung serba ada dibuka tanpa kepastian jam kerja. Buka pagi, tutup menjelang siang, buka lagi di kala senja meremang, dan tutup lagi ketika malam baru datang bertandang. Di sebelahnya berdiri sebuah masjid dengan dua toa saling membelakangi. Sekiranya masjid ini besar dan berdiri di tanah lapang, barangkali aku takkan terganggu. Tapi rumah-rumah disini begitu riuh dan berjubel seperti kutu kere kumal*. Jalanan depannya hanya dapat dilalui dua motor dengan pengendara yang harus turun kaki ketika berpapasan dengan pengendara lain. Tak jarang microphone untuk mengumandangkan adzan digunakan untuk mengusir bocah-bocah kecil yang berlarian di dalam masjid. Dan semakin bocah-bocah itu bandel, semakin pekaklah kuping setiap penduduk yang mau tak mau harus turut pusing mendengarkan omelan si bapak tua penunggu masjid. Di depan pintu kamarku, pada setiap pagi, akan selalu terdengar teriakan seorang Ibu yang membentak-bentak kasar anak laki-lakinya yang kecil dan bandel, yang tak mau mandi sebelum pergi ke sekolah.

Di got-got, tikus-tikus sebesar anak kucing dengan bulu-bulu pitaknya berkeliaran. Menyusup ke dalam dapur-dapur eksternal, di antara bakul nasi, dan kranjang sampah. Dari kranjang sampah ke meja makan, dari meja makan kembali ke liangnya di pinggiran got. Lalu-lintas tikus-tikus tak pernah mengganggu beberapa orang dewasa yang bercengkrama di pinggiran got pada malam hari. Mereka telah akrab dengan bau got, dan gerak lincah tikus-tikus itu. Mereka, yang bercengkrama di malam larut, dapat ditemui lagi di siang bolong, di tempat yang itu juga. Mereka bekerja sebagai montir bengkel liar. Bengkel liar, di tempat yang itu juga, sesungguhnya merampas jalan utama. Jalan utama di kampung itu, maksudku. Jalan yang hanya selebar satu unit mobil, dan satu unit sepeda motor. Jangan pernah mengirim surat, atau menanyakan di mana alamat, bengkel liar itu. Tak ada rumah, gubug, atau bangunan apa pun yang dapat menjadi titik koordinat yang tepat dari lokasi tempat kerja tersebut. Sederet bahu jalan itu adalah bengkel mereka.

Mari, kawan, berkunjung ke tetangga sebelah. Sebelah kampung, maksudku. Ke pusat kebudayaan yang aku sebutkan pada awal tulisan. Beberapa langkah dari gerbang, seorang perempuan paruh baya duduk diam memandang jalan. Melamun. Kapan saja bisa dilihat ia akan berada di tempat yang sama. Suatu malam aku mendengar keributan. Kata orang-orang sekitar, ia, perempuan itu, sedang kumat. Ternyata perempuan itu mengidap kelainan mental. Ia sakit jiwa, kawan. Di tempat lapang di gerbang depan, yang bentuknya serupa teras, satu orang lagi sakit jiwa dapat kau temui. Yang satu ini laki-laki. Dengan kumis dan jenggot yang tumbuh subur, perawakan kecil, kurus kering, setelan mirip dukun, dengan clana hitam panjang menggantung. Setiap saat ia harus menarik dalam-dalam dahak di tenggorokannya dengan suara keras. Dahak yang hanya kadang-kadang saja diludahkan—beberapa ditelan utuh-utuh. Agak jauh masuk ke dalam wilayah pusat kebudayaan, di tempat yang agak gelap di malam hari, di mana pohon beringin dan pohon-pohon besar tumbuh rimbun, berpasang-pasang remaja memadu kasih; di atas motor, di balik pohon, di antara rumpunan semak. Tak tahulah aku apa yang mereka lakukan di sana, di tempat gelap itu. Mereka begitu muda, dan begitu besar nafsu birahinya, barangkali. Tapi yang pasti; begitu tolol. Beberapa yang tak beruntung, tak punya kekasih, mengajak adik-adik mereka—kandung atau adik tetangga—mencari cinta di botol anggur. Ketika tandas duit mereka, orang-orang asing di sekitarlah yang jadi korban. Pernah suatu kali, seorang kawanku dikepung kunyuk-kunyuk kecil itu. Baku hantam terjadi. Kawanku seorang diri. Koloni manusia entah dari berapa abad silam itu terlalu banyak. Habislah diri dan materi kawanku itu.  

Seminggu sekali atau dua, pusat kebudayaan akan dipenuhi oleh tuan-tuan dan nyonya-nyonya terhormat. Penampilan perlente, prakarya para banci salon, tampak berlalu-lalang di tempat itu. Di saat itu terjadi, beberapa orang dari kampung sebelah mulai sibuk mengatur kereta kencana para yang terhormat. Ada salah satu gedung, di antara gedung-gedung yang merangkai pusat kebudayaan tersebut, yang berdinding kaca. Di dalam kaca adalah negri kahyangan, tempat dewa dewi menikmati perjamuan, dengan gaun mahal, dan menu seharga satu minggu makan di warteg. Di luar kaca, hanya beberapa centimeter dari ruang dalam kaca, bocah-bocah ingusan berdiri menatap takjub sambil menggaruk-garuk kaki mereka yang kudisan. Tatap lekat-lekat pemandangan itu, tong! Bawa pulang bayanganmu untuk kau nyatakan dalam mimpi nanti malam! 

Untuk kawanku yang berada di dusun. Jika hanya ingin berlalu-lalang di mall, dan bertegur sapa dengan selebriti yang selalu menyapamu di televisi, apa yang aku tuliskan ini akan lebih sering kau rasakan bakalnya. Kota ini tak ubahnya sebuah dusun besar. Kemewahannya hanya sebatas materi, sikap manusia-manusianya biasa kau temui pada tetangga sebelahmu di dusun.

Salam!

*) ungkapan itu saya pinjam dari Widji Tukul

Les Miserables: Nyanyian Panjang Perjuangan, Mimpi, Harapan, dan Cinta

      image

Keistimewaan dari Les Miserables Tom Hooper adalah, ia menampilkan gaya tutur yang sama sekali berbeda dengan Victor Hugo tanpa merusak tema besarnya, Humanisme Universal.

Menonton Les Miserables Hooper beda dengan membaca Victor Hugo, tapi , saya kira, kesan yang didapat dari menonton karya Hooper tanpa membaca Hugo pun juga akan berbeda, dengan menontonnya setelah membaca versi novelnya. Hugo menciptakan impresi, dan Hooper memperdalamnya, dengan anggun, dan megah.

Lebih dari 90% percakapan—baik itu dialog, pun monolog—dilantunkan dengan lagu dan dinyanyikan langsung di lokasi syuting. Beberapa sudut kamera mengambil sudut pandang-sudut pandang close-up untuk mempertegas kedalaman akting para pemerannya. untuk hal ini, saya benar-benar mengagumi Anne Hathaway. Dalam sudut close-up, ia tidak hanya pamer tampang—seperti yang biasa kita lihat pada selebriti kita di sinetron-sinetron lokal—melainkan benar-benar merepresentasikan perannya sebagai Fantine; seorang Ibu yang miskin, sekarat, dan terpisah dari putrinya tercinta. Anne tampil “tidak cantik”, tapi penderitaannya begitu nyata, sehingga orang akan abai atas betapa kurus, dan jeleknya ia di sini (ia bukan lagi Selina Kyle yang seksi), dan akan turut merasakan penderitaan Fantine. Mimpi Fantine, untuk bersatu dengan putrinya yang tak ber-Ayah, harus tandas di tengah-tengah masyarakat yang hidup dengan desas-desus dan prasangka, “Now life has killed the dream I dreamed…” 

Hugh Jackman memerankan tokoh sentral, Jean Valjean, dengan akting yang tak kalah baik dengan Anne Hathaway. Dalam Valjean’s Soliloqui, ia menghidupkan kebimbangan sosok Jean Valjean, tokoh protagonis berlatar belakang kriminal, yang kemudian mendapatkan ampunan dari seorang Uskup yang ia rampok. Dalam Valjean’s Soliloqui, seperti juga Anne dalam I Dreamed A Dream, Hugh Jackman menyanyikan lagunya dengan sangat emosional. Kamera yang diclose-up pada wajahnya menunjukkan, pada penonton, perubahan ekspresi Hugh Jackman, dari seorang kriminal yang mendendam pada masyarakat, ke sosok yang telah mendapatkan pencerahan dan bertekad untuk hidup di jalan kebajikan, “Jean Valjean is nothing now, another story must begin….!”.

Dalam percakapan yang dilantunkan dengan lagu, Sacha Baron Cohen (sebagai Thénardier) tampil nakal dengan tidak memperdulikan irama, dan nada yang harus ia jaga. Tapi pembawaannya yang konyol, dengan didampingi oleh Helena Bonham-Carter (sebagai Mms. Thénardier), yang tak kalah konyol, menjadi jeda yang cukup menghibur, atas perjuangan dan penderitaan panjang yang ditampilkan dalam kisah Les Miserables. Di dalam novel, anda akan benar-benar membenci pasangan kriminal—Thénardier—ini, tapi, barangkali anda akan berterima kasih pada pasangan Cohen-Carter, yang menyumbangkan humor dan kekonyolan dalam film bertema penderitaan ini. Penampilan Russel Crowe, yang berperan sebagai Inspektur Javert, tentu adalah penampilan yang cukup segar untuk dinikmati. Kapan lagi kita bisa melihat “Sang Gladiator” ini bernyanyi? Stars (Javert’s Monologue) adalah bukti bahwa “Sang Gladiator” ini juga jago dalam bernyanyi. Inspektur Javert adalah tokoh yang berpegang teguh pada hukum, siapa pun yang salah di mata hukum, salah di mata Javert. Dan Jean menyentuh sisi kemanusiaan Javert, untuk melihat manusia sebagai manusia itu sendiri. Dalam lagu Javert’s Suicide, Russel Crowe mewakili sisi kemanusiaan Javert, selain sebagai seorang abdi hukum, mempertanyakan kembali nilai-nilai dalam hukum dan masyarakat yang ia pegang teguh. Berbeda dengan Tuan Jackman atau Nona Hathaway, yang bernyanyi dengan selingan tangis, erang, dan desah yang emosional, “Sang Gladiator” tampil dingin. Bagi saya secara pribadi, ia lebih berhasil memerankan Javert, dibandingkan dengan Geoffrey Rush pada 1998 lalu.

Lagu-lagu bertema cinta dan perjuangan sangat merepresentasikan Victor Hugo. Ia memiliki sisi romantis dan heroisme—berbau ideologi politik—yang seimbang. Dalam Les Miserables Hooper, pada satu waktu penonton dibawa ke dalam kemegahan, dan gegap gempita lagu-lagu bertema perjuangan—sisi heroik, dan politis Hugo. Di waktu yang lain, penonton akan diarahkan ke dalam melankolisme yang mendayu-dayu dengan lagu-lagu bertema cinta—sisi romantis Hugo. 

Do You Hear The People Sing?, misalnya; 

“Do you hear the people sing? Singing the song of angry men? It is the music of a people who will not be slaves again. When the beating of your heart echoes the beating of the drums,there is a life about to start when tomorrow comes….”

Lagu ini dinyanyikan dengan paduan suara yang sangat megah oleh Rakyat Prancis pada adegan awal revolusi. Dipimpin oleh Enjolras dan The Friends of ABC-nya, rakyat memboikot arak-arakan upacara pemakaman Jenderal Lamarc, simbol Revolusi Prancis. Enjolras turun ke barisan Garda Nasional dan mengibarkan bendera merah, Red, the blood of angry men! 

Dalam Look Down!, Daniel Huttlestone (memerankan Si Brandal Kecil, Gavroche) dengan logat Inggris-nya yang cadel dan  kental, menyanyikan sebuah bait yang gagah—bertolak belakang dengan usia dan tubuhnya yang kecil, juga bicaranya yang cadel;

“There was a time we killed the King/ We tried to chance the world to fast/ Now we have got another King, He is no better than the last/ This is the land that fought for liberty— Now when we fight we fight for bread!/ Here is the thing about equality—Everyone’s equal when they’re dead/ Take your place!/ Take your chance!

Vive la France! Vive la France!”


           image

Sisi romantis Les Miserables tentu adalah kisah cinta antara Marius dan Cosette. Tapi Samantha Barks (yang berperan sebagai Éponine Thénardier) berhasil mencuri perhatian dengan penampilannya, ketika ia meng-overlapping lagu A Heart Full of Love yang dinyanyikan oleh Eddie Redmayne (Marius) dan Amanda Seyfried (Cosette). Ketika Marius bernyanyi bersahut-sahutan dengan kekasihnya, Cosette, mengumbar kata-kata cinta mereka, Éponine, di belakang mereka, pun turut bernyanyi, untuk dirinya sendiri, 

He was never mine to lose/ Why regret what cannot be?/ These are words he’ll never say/ Not to me…Not to me…Not to me…His heart full of love/ He will never feel this way…

Dan suasana pun semakin dramatis dengan nyanyian solo Eponine di tengah hujan, I love him/ But every day I’m learning/ All my life/ I’ve only been pretending/ Without me/ His world would go on turning/ A world that’s full of happiness/ That I have never known

I love him…I love him…I love him…But only on my own.

        

Setelah suasana mendayu-dayu tersebut, klimaks konflik pribadi setiap tokoh yang terdapat dalam film ini diutarakan secara bersamaan. Dalam lagu One Day More, setiap tokoh menyanyikan kata hatinya. Jean Valjean membawa Cosette pergi dari Prancis untuk menghindari Javert, tokoh yang mengikat Jean pada masa lalunya yang gelap sebagai kriminal. Cosette tak mampu melawan Ayah angkatnya tersebut dan harus memendam kegalauan hatinya berpisah dengan Marius. Javert sendiri sibuk mempersiapkan Garda Nasionalnya, untuk menghadapi Enjolras dan kawan-kawan revolusionernya. Marius bimbang, apakah ia harus pergi untuk menyusul Cosette, atau tinggal bersama Enjolras dan kawan-kawannya berjuang dalam revolusi. Éponine meratapi cintanya yang bertepuk sebelah tangan, dan kemudian menyertai Marius—yang akhirnya memutuskan untuk menjadi bagian revolusi—dalam perang sipil dengan tentara Prancis. Éponine bahkan menjadi tameng hidup Marius, dan mati dalam pelukan Marius yang ia cintai tanpa balasan. Enjolras masih tetap teguh pada perjuangan revolusinya, menyuarakan suara-suara keberanian kepada para pelajar dan buruh yang turut serta dalam kawan-kawan revolusionernya. Pada bagian ini, penonton dipaksa untuk hanya akan menikmati musik yang tercipta, karena syair dan karakter suara yang berbeda dinyanyikan secara bersamaan. Syair-syair tersebut tidak akan mudah ditangkap telinga, tapi nada yang tercipta cukup menggetarkan, setidaknya bagi saya.

Pada akhirnya, revolusi Prancis 1832 lah yang menjadi titik puncak dari segala masalah utama dalam Les Miserables; penderitaan, yang disebabkan oleh masyarakat yang berada dalam kemiskinan akut. 

Peran yang begitu dalam, syair-syair indah diiringi dengan nada-nada emosional, tata artistik memukau; dari mulai tata busana, set lokasi Prancis masa restorasi, hingga special effect-nya, dan alur cerita yang cepat—dibandingkan dengan versi novelnya—membuat Les Miserables tidak kalah menarik dari versi novelnya, bahkan bisa menandingi versi film terdahulunya. Dengan alur cerita yang cepat cenderung ngebut, film ini masih memakan durasi 150 menit! Tapi saya rasa, Les Miserables Hooper, yang tidak hanya memanjakan mata, melainkan juga pendengaran para penonton dengan lagu-lagunya, tidak akan membuat para penontonnya jemu.

       image

Yes, I can still hear ‘em sing, even when the show is over, even here, in Indonesia, the people sing the same old song!

—Bagus Purwoadi, 2013

Dalam masyarakat kita, kau tak bisa memilih dengan bebas pekerjaanmu. Sebagai Ayahmu, aku tahu kau punya bakat kesusastraan. Walaupun pekerjaan sebagai penulis sangat berbahaya, aku masih menginginkan kau mengikuti jalan itu.
Liang Heng, Tragedi Anak Revolusi, 1984

Mencari Bima

Ketika saya mendengarkan lagu berjudul Hilang dari Efek Rumah Kaca, saya menemukan sebuah tulisan yang sangat indah dari Mulyani Hasan perihal Petrus Bima Anugerah, salah seorang aktivis yang hilang pada Maret 1998. Sampai sekarang, Bima masih belum diketahui keberadaannya. 15 tahun di-hilang-kan, semoga Bima dan teman-teman yang satu perjuangan dan satu nasib dengannya tidak dilupakan….

Seorang anak muda yang cerdas dan kritis dihilangkan di masa Soeharto. 24 pastor merayakan misa untuk mendoakannya. Sampai hari ini belum ada kejelasan tentang nasibnya.

DIA masih merenung di pintu belakang rumah sampai tengah malam itu. Duduknya menghadap langit yang baru ditinggal hujan. Setiap malam begitu. Jumlah rokok yang dihisapnya yang tak terhitung lagi.Lelaki ini bernama Dionyus Utomo Rahardjo dan akrab dipanggil Tomo atau Pak Tomo oleh orang yang mengenalnya. Dia ayah Petrus Bima Anugerah, aktivis yang hilang di tahun 1998. Dulu  Bima sering pulang lewat pintu belakang pada tengah malam. Dia berjanji kepada orang tuanya akan pulang di perayaan Paskah, April 1998, namun yang datang malah berita hilangnya.

Pada 1997  Bima pamit dari rumah untuk minta restu pindah kuliah ke Jakarta. Sebelum itu dia kuliah di Universitas Erlangga, Surabaya. Diskusi panjang pun terjadi antara ayah, ibu, dan anak selama empat jam.

“Nanti Ibu tahu sendiri apa yang kuperjuangkan,” ujar Bima.Misiati memang tak begitu paham soal aktivitas anaknya. Lain hal dengan Tomo yang sudah mengetahui aktivitas politik anaknya sejak awal. Ini dimulai dari keterlibatan Bima di SMID (Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi), sebuah organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan PRD (Partai Rakyat Demokratik) yang gencar melawan rezim totaliter Soeharto.SMID dideklarasikan di Jakarta pada Agustus 1994. Program utamanya adalah pencabutan Dwi Fungsi ABRI (Angkatan Bersenjata Republik ) dan pencabutan paket 5 Undang-Undang Politik 1985 yang membungkam kebebasan orang untuk berpendapat dan berorganisasi.“Justru itu kami mengkhawatirkanmu,” sahut Tomo.“Berapa banyak kawanmu?” tanya Tomo.

“Kurang lebih 35 orang,” jawab Bima.

“Kamu itu akan membentur tembok yang kerangkanya terbuat dari beton,” kata Tomo, mengingatkan anaknya. Dia menggambarkan rezim Orde Baru seperti tembok tebal yang disanggah tulang-tulang beton.

Tapi Bima malah menjawab “Paling tidak aku yang menabraknya, Pak.”

Sunyi sejenak…

Tomo kehabisan alasan untuk mengubah pendirian anaknya.

“Pergilah, berangkatlah asal jangan imanmu goyah. Kalau kamu tertangkap di Jakarta, paling tidak namamu melegenda,” ujar Tomo.

Bima pergi dibekali uang Rp 100 ribu.  Dia kemudian mendaftar ke Sekolah Tinggi Filsafat Drikarya, Jakarta. Suratnya terakhir kepada ibunya hanya memastikan bahwa dia baik-baik saja.

“Ibu tahu kan gedung-gedung mewah yang kita lihat waktu ke Jakarta. Tapi Ibu tahu gak, di balik gedung itu orang-orang tidak makan, anak-anak sekolah tak bersepatu. Di gedung tinggi orangnya cuma sedikit tapi di balik gedung itu banyak sekali orang yang bergelimpangan. Itulah yang kuperjuangkan, Bu,” ujar Bima dalam suratnya.

Bima rajin menulis surat untuk Ibunya. Namun sayang, surat-surat itu baru sampai ke tangan Misiati belakangan, setelah Bima hilang. Misiati sedih saat membaca surat Bima yang berisi permintaan dimasakkan sayur lodeh kesukaannya jika pulang nanti. Sebab, selama di Jakarta, dia tak sempat membuat santan untuk memasak sayur tersebut.

“Bima masak sendiri dengan kawan-kawan, tapi kalau mau buat santan, kami tak punya waktu, Bu,” tulisnya dalam surat itu.

Bima saat itu tinggal dengan tiga kawan lainnya dalam sebuah kamar di rumah susun Klender. Mereka adalah Mugiyanto, Nezar Patria dan Aan Rusdianto. Kawan-kawannya memanggil Bima dengan sebutan “Bimpet” alias Bima Petrus.

“Di Jakarta, ada beberapa titik persembunyian yang kami sebut save house dan setiap kader partai tak ada yang mengetahui  tempat satu sama lain tinggal, kecuali yang ditempatkan dalam satu rumah. Bahkan nomor telepon pun tidak. Nah, untuk komunikasi antar tim itu, semua tersentral di Bimpet. Ini semua strategi gerakan untuk keamanan. Jadi, Bimpet itu memang orang yang paling banyak tahu,” ujar Mugiyanto, ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang atau IKOHI. Saya menemuinya di kantor IKOHI, di kawasan Menteng Jakarta Pusat.

Mugi, panggilan akrabnya, bersama Bima selama tiga bulan terakhir sebelum dia hilang. Tak ada yang tahu di mana dan kapan Bima diambil.

“Dia memang sudah jadi target penangkapan. Selain itu, organisasi sudah kotor,” kata Mugi.

Mugi pertama kali bertemu dengan Bima di tahun 1995 di Yogyakarta. Mugi punya kesan baik terhadap Bima.

“Bimpet pribadi yang berani, teguh dan disiplin dalam usaha merealisasikan idealismenya. Aku yakin betul karena semua itulah dia tidak dikembalikan oleh penculiknya.”

Dalam rentang waktu itu rumah  Tomo disatroni aparat. Ada yang mengaku dari kepolisian, tapi ada juga yang tak berseragam. Melacak rumah Tomo memang gampang. Rumahnya berada di tengah kota Malang, tak jauh dari stasiun kereta api. Di tahun 1997 Tomo menjabat ketua Rukun Tetangga dan ini juga memudahkan pelacakan.

Sebelum itu, di tahun 1996 PRD dinyatakan sebagai dalang massal yang dipicu penyerbuan sejumlah aparat berpakaian preman ke kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia  di Jakarta. Dua puluh enam orang hilang dan banyak yang luka-luka akibat peristiwa itu. Sebagai buntutnya, Ketua PRD Budiman Sudjatmiko dan sejumlah pengurus partai dijebloskan ke penjara. Peristiwa ini terkenal dengan sebutan Peristiwa 27 Juli.

Suatu ketika dua pria  bertamu ke rumah Tomo.

“Di mana Bima?” tanya salah seorang dari mereka.

“Gak tahu, mungkin dia pulang ke Jakarta,” jawab Misiati.

“Lho kok ibunya sendiri gak tau?” kata orang itu dengan nada suara meninggi, sambil menggebrak meja.

Misiati terus didesak. Sementara Tomo sedang tak di rumah.

“Saya bisa saja memberi alamat palsu, biar cepat urusan, biar Anda gak menguber saya,” timpal Tomo yang baru saja tiba di rumah sepulang kerja, ia bahkan belum sempat membuka sepatu ketika mendapati tamu-tamu tak dikenal itu.

Orang-orang itu lantas bertanya siapa saja sanak saudara Tomo dan di mana mereka tinggal. Ternyata mereka benar-benar melacaknya. Keluarga di Blitar dan Lumajang didatangi. Mereka mengaku rekan kerja Bima dan menanyakan keberadaan Bima.

Mendadak para pedagang keliling juga makin banyak lewat di depan rumah Tomo. Mereka itu bagian dari jaringan intelijen yang sedang mengawasi keluarganya. Tetangga-tetangga sekitar rumah mulai beranggapan negatif tentang Bima. Penjahat, pemberontak dan macam-macam tuduhan. Tapi mental Tomo dan keluarga sama sekali tak melemah.

“Mendidik anak itu yang benar!” kata teman kerja  Tomo, suatu hari ketika  Tomo masih bekerja di Rumah Sakit Jiwa Lawang

“Saya yakin anak saya itu benar,” ujar Misiati yang tegar dengan segala keyakinannya, meski seluruh sanak saudaranya bersikap sama seperti orang-orang kebanyakan.

Mugi tak tahu persis kapan Bima hilang. Saat dia diculik dan disekap di suatu tempat, dia hanya mendengar teriakan Nezar Patria dan Aan Rusdianto, kawan serumahnya. Meski matanya tertutup, teriakan itu bisa dikenalinya.

Berkali-kali Mugi disetrum dan dipukuli. Para penculik itu banyak bertanya soal struktur PRD dan kasus peledakan bom di rumah susun Tanah Tinggi. Mereka juga bicara soal referendum Timor Timur dan Aceh. Mengapa PRD mendukung referendum di dua wilayah perang itu? PRD bahkan melakukan aksi lompat pagar kedutaan Belanda dan bersama para pemuda Timor Timur untuk mengkampanyekan referendum serta mendukung permintaan suaka politik bagi mereka yang diburu aparat .

“Yang paling mengerikan saat di tempat penyiksaan adalah ketika mendengar suara teriakan kesakitan kawan sendiri,” kisah Mugi.

PETRUS Bima Anugerah lahir di Malang, 24 September 1973. Dia anak kedua dari empat bersaudara. Namanya diilhami sebuah sandiwara radio yang sering didengarkan ibunya saat hamil sambil menggoreng biji kopi, ketika menjelang senja.

Bima adalah tokoh Pandawa Lima yang jujur, berani dan gagah, dan berjuang untuk membela orang lemah. Tapi gurunya malah ingin menghilangkan muridnya. Bima diperintahnya masuk ke dalam dasar laut untuk menemui Dewa Ruci. Bima murid yang taat kepada sang guru. Dia menuruti perintah sang guru yang jahat itu. Tapi dia malah selamat dan memperoleh kesaktian.

Sedangkan nama tengah “Petrus,” diambil dari nama salah seorang murid Yesus dalam Injil. Petrus digambarkan berwatak keras seperti batu karang. Bima dan Petrus adalah anugerah. Jadilah sosok manusia baru itu dinamai Bima Petrus Anugerah.


Bima kecil adalah anak periang yang sabar. Dia menerima setiap keadaan. Tubuhnya gemuk menggemaskan.keras seperti batu karang. Bima dan Petrus adalah anugerah. Jadilah sosok manusia baru itu dinamai Bima Petrus Anugerah.

“Kalau dia sudah pakai baju pramuka dan berdasi, duhh gagah sekali,” kenang ibunya seraya menggelengkan kepala.

Bima sering memimpin upacara bendera di sekolahnya, di mana Misiati juga mengajar di sekolah dasar itu. Dia sering jadi juara kelas. Meski ibunya guru di sekolahnya, Bima tahu betul bagaimana menempatkan dirinya sebagai murid. Dia tak manja di sekolah, tidak seperti di rumahnya dia selalu disuapi makan dan tidur bersama sang ibu.

Anak itu pernah menangis dan mengadu kepada bapaknya. Dia sering diganggu oleh kawan sekolahnya.

“Kamu harus berani, jangan menangis!” ujar Tomo.

Keesokan hari Maman si pengganggu itu ditumpahi ember berisi pasir di kepalanya. Tomo tertawa geli menceritakan peristiwa tersebut kepada saya.

Bima tumbuh dalam lingkungan religius. Dia rajin ke gereja, bahkan pernah menulis sebuah doa dan minta kepada ibunya untuk membacakan doa itu ketika orang-orang menghadiri misa di gereja. Demikian pula dalam surat-suratnya, dia sering menyebutkan bahwa apa yang dia lakukan sesuai dengan ajaran Katolik yang mengharuskan keberpihakan kepada rakyat teraniaya.

Namun, Bima remaja tak banyak bicara. Menurut Misiati, mungkin kesadaran politiknya tumbuh sejak dia masuk Sekolah Menengah Umum Dempo, sebuah sekolah favorit di Malang. Murid-murid di sekolah ini kebanyakan anak-anak orang berada. Sementara Bima hanya anak pegawai negeri yang hidup sederhana dan pas-pasan. Ketimpangan itu jelas-jelas terlihat dari gaya hidup dan penampilan para murid. Namun Bima tak menuntut apa-apa. Dia menerima keadaan keluarganya tanpa rasa rendah diri.

Cara berpikirnya semakin matang ketika dia masuk perguruan tinggi.

“Bima itu tak punya buku, entah dia baca di mana,” kata Tomo.

Setiap kali pulang ke rumah, dia selalu bercerita soal politik. Kadang dia mengajak kawan-kawannya ke rumah. Di antara mereka itu adalah Herman Hendrawan dan Rahardja Waluyo Jati. Keduanya juga aktivis PRD. Herman Hendrawan senasib dengan Bima, diculik dan tak kembali sampai hari ini.

“Kami sering diskusi soal politik di rumah ini,” kenang  Tomo.

“Kuliah itu tak harus di bangku kuliah. Saya bisa belajar dari buruh, petani dan orang-orang di perkampungan kumuh.” Suatu hari Bima berkata kepada bapaknya.

Bima memang sadar betul apa yang dilakukannya mengandung risiko besar. Pada 1997, sebelum dia diculik, dia pernah mendekam 60 hari di penjara karena terlibat pengorganisasian massa Megawati Soekarno dan partai Islam, Partai Persatuan Pembangunan. Ketika itu massa pendukung Megawati yang kecewa pada pemerintah Soeharto menemukan platform perjuangan yang sama dengan massa Partai Persatuan Pembangunan (yang dikenal dengan julukan massa “Bintang”, diambil dari lambang partai tersebut) yang juga kecewa pada pemerintah. PRD ingin menyatukan mereka yang sama-sama diperlakukan sewenang-wenang ini dalam sebuah front perjuangan bersama, yang kemudian jadi populer dengan sebutan Mega-Bintang-Rakyat.

Tak ada keluarganya yang tahu selama Bima di penjara. Orang tuanya baru mengetahui kejadian itu setelah dia bebas.

Pada Senin, 13 April 1998, beberapa saat setelah Paskah,  Tomo dan Misiati melaporkan kehilangan Bima kepada Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KONTRAS. Di tengah cemoohan banyak orang, tak sedikit juga pihak yang simpati kepada mereka.

Mei 1998, sehari sebelum Soeharto mundur dari kekuasaannya,  Tomo dan Misiati diundang menghadiri misa di Katedral Surabaya. Rabu itu tanggal 20 Mei 1998, massa meluap ke jalan-jalan, mereka menuntut Soeharto mundur. Ini terjadi di berbagai kota, terutama di Jakarta.

Misa itu tak biasanya. Ada 24 romo (pastor dalam istilah Jawa) dan 36 pelayan pastor hadir. Biasanya misa cukup dihadiri seorang romo.

“Aku tak mengerti. Ternyata misa itu khusus untuk Bima,” kata Misiati.

“Padahal di gereja tempat saya ibadah, tak pernah mempertanyakan,” lanjutnya.

Doa Bapak Kami, karya Bima, dibacakan dalam misa itu.“KAMI akan menunggunya pulang sampai kapan pun. Suatu saat Tuhan akan membuka jalan,” ujar Genoveva Misiati, dengan air mata berlinang.Sementara itu Tomo masih memeluk lututnya, duduk dekat pintu belakang. Entah berapa batang rokok kretek yang sudah terbakar.

“Saya tak pernah merasa berat mencari anak saya, meski hampir sepuluh tahun,” katanya.

“Jalan apalagi yang harus kami tempuh. Saya sudah puas dengan usaha kami dan kawan-kawan IKOHI, KONTRAS,  dan wartawan,” katanya, lagi.

Misiati masih tersendat. Dia menganggukkan kepala, menyetujui ucapan suaminya.

“Selama empat tahun saya puasa setiap Senin dan Kamis, tapi Bima belum kembali juga,” ujarnya. Ujung ucapannya seakan mengendap di tenggorokan. “Dia masih ada,” tegasnya.

           

Mulyani Hasan, 12 Desember 2007

Di Hari Kedua Pada Bulan Pertama

Di malam tahun baru, semua orang berduyun-duyun merayakan malam pergantian tahun. Memenuhi langit dengan cahaya kembang api, mengisi kosong dengan pejalnya barisan manusia, dan mengobrak-abrik sunyi dengan suara-suara petasan, dan terompet. 

Di malam tahun baru, ada harapan yang dipersolek. Dibuat lebih indah, seolah-olah hari-hari yang telah lalu adalah cela.

Ada banyak harapan menguap di udara di malam tahun baru. Harapan-harapan meluncur bersama dengan hingar-bingar dan tawa, untuk kemudian meledak pecah, berhamburan, tak berbekas, senasib dengan kembang api - kembang api yang menemani bintang menerangi langit malam itu. Harapan, sepertinya, hanya sekedar teman kencan semalam. 

Di hari kedua pada bulan pertama, akankah harapan yang kita panjatkan menjadi dewasa dan berubah menjadi laku?

Di hari kedua pada bulan pertama, rutinitas memanggil. Masihkah ada kembang api yang meletus dengan warna-warni, walau hanya dalam hati?

Di hari kedua pada bulan pertama. Akankah terompet akan tetap ditiup dengan penuh semangat untuk menyambut kerja?

Di hari kedua pada bulan pertama, semoga kita tidak terlelap dalam harapan yang tinggal jadi harapan, untuk kemudian kita sesali di akhir tahun berikutnya.

Selamat hari kedua di tahun yang baru!

—Bagus Purwoadi, 2013

Bahagia Itu, Kebetulan yang Sederhana

Bahagia itu sederhana. Kali ini frasa itu tersirat dari kisah seorang abang supir bajaj - yang saya tumpangi - yang saya dengar di sepanjang perjalanan Senen-Cikini, di bawah matahari yang terik, Rabu, 19 Desember 2012.

Siang itu, saya menghentikan sebuah bajaj berbahan bakar gas di depan sebuah toko material di kawasan Senen, Jakarta Utara, untuk mengangkut dua lapis MDF seukuran 1 x 2m. Si Abang supir bajaj - berusia kurang lebih 50 tahun - berpenampilan cukup rapi, dengan kemeja batik, celana pantalon, sepatu pantofel dan rambut klimis sibak pinggir. Dan di dalam perjalanan, selalu ada percakapan, baik itu searah maupun dua arah. Kali ini, percakapan ini searah, saya biarkan kata-kata pak Supir mengalir membangun kisahnya sendiri.

Pak Supir berkata, ia mulai bekerja sebagai supir bajaj sejak tahun 70-an. Pada mulanya saya pikir, ia termasuk ke dalam kalangan orang-orang yang menolak untuk bekerja keras, karena taraf kehidupannya selama 30 tahun tidak mengalami eskalasi, stagnan, hanya sebagai supir bajaj.

Kemudian ia mulai bercerita. Pernah pada suatu kali ia mencoba untuk menjadi seorang juragan bajaj. Ia membeli tiga buah bajaj dan memperkerjakan orang lain untuk menarik bajaj-bajajnya. Tapi ternyata menjadi juragan tidaklah mudah, atau barangkali ia memang tidak memiliki mental seorang juragan, atau mungkin ia terlalu lembut hati untuk dapat tegas dalam menagih setoran pada tiga orang anak buahnya. Saya rasa, dari cara bicaranya, Pak Supir ini memang terlalu lembut hati untuk menjadi seorang juragan. Dari dialek Jawa Tengah-nya yang kental, saya kira memang ia adalah seorang yang lembut hati, dan kurang keras, atau tegas, untuk menjadi seorang juragan. Si Pak Supir kembali turun ke jalan untuk menyupir sendiri. Anehnya, ia menjual tiga buah bajajnya dan memilih untuk bekerja pada juragan bajaj yang lain - dan bukannya menyupir bajajnya sendiri. 

Pak Supir berasal dari Wates - daerah pinggiran Yogyakarta. Ia datang ke Jakarta bersama kedua orang tuanya yang menjadi pedagang sayur di pasar pada saat ia berumur delapan tahun, pada sekitar tahun 1967. Sejak kecil, menurut Pak Supir, karena ia telah bekerja membantu kedua orang tuanya, maka ia telah mengenal uang. Hal ini membuat pak supir tidak lagi serius di sekolah dan hanya berkeinginan untuk mencari uang dengan bekerja. Saya tidak bertanya sampai jenjang mana dia bersekolah, saya rasa tidak pantas, untuk kemudian, memandang Pak Supir dari kualitas pendidikannya. Lagipula ini Indonesia, pendidikan tak menjamin kualitas manusia-manusianya. Jadi, akan lebih baik jika saya hanya menikmati percakapan kami, dari tutur katanya yang ramah dan halus, yang sudah cukup membuat saya memandangnya tidak dengan sebelah mata. 

Kata Pak Supir, saudara-saudaranya banyak yang menjadi PNS. Kemudian saya bertanya, kenapa ia tidak turut menjadi PNS. Bukankah menjadi PNS itu lebih enak? Bukankah di masa Pak Supir, lebih mudah mencari pekerjaan, jadi PNS pun juga lebih gampang? Pak Supir pun mengakui bahwa, pada masanya, menjadi PNS jauh lebih mudah dibandingkan dengan zaman sekarang. Di masa Pak Supir muda, jadi PNS tidak perlu setor modal (menyogok) terlebih dahulu, tidak perlu punya kenalan “orang dalam” dulu. “Tapi saya lebih suka bebas, mas”. Ahay! Kebebasan Pak Supir barang-tentu adalah kebebasan murni yang diinginkan Rakyat Indonesia. Kebebasan yang tidak disebabkan oleh karena pengaruh asing dari buku-buku Barat, kebebasan yang lahir dari pengalaman hidup dalam bekerja, kebebasan untuk mencari, dan kemudian menggunakan, uang - secara halal, tentu - di manapun ada kesempatan. Pak Supir lebih suka menggunakan uangnya untuk membangun usaha sendiri. “Orang yang punya usaha sendiri itu lebih tabah, mas” katanya. Ya! Orang yang membangun modal usahanya sendiri, barang tentu akan lebih bertanggung jawab. Naik turunnya usaha mereka tergantung dari kegigihan mereka sendiri, dan secara otomatis, akan membuat mereka lebih tabah dalam (menjalani) kehidupan, tentu.

Pak Supir memang tidak hanya menyupir bajaj (orang lain). Ia juga memiliki usaha warung makan, dijalankan oleh istri dan anak perempuannya, yang terletak di rumahnya di belakang Roxy Mas. Pak Supir dan istrinya juga berdagang sayuran di pagi hari, sebelum Pak Supir, di siang harinya, menarik bajaj. Hasil dari usaha-usaha “bebas” Pak Supir ini telah berhasil untuk membiayai pendidikan sekolah 4 orang anaknya hingga, tiga di antara mereka, telah mampu membiayai kehidupan mereka sendiri. 

Nah, bukankah bahagia itu sederhana? Bukankah tidak semua rakyat kecil itu hanya bisa bawel, dan terus menuntut pemerintah? Buktinya, Pak Supir yang saya temui ini. Dia bahagia dengan pilihan hidupnya. Usahanya memang bukan usaha makro, tapi setidaknya, kesejahteraannya cukup terjamin. Pak Supir tidak bawel, dan hanya bisa meminta pada pemerintah, buktinya, ia menolak untuk menjadi PNS. Dan satu pesan dari Pak Supir, dan ini bukan berarti bahwa ia bawel. Pemerintah (sendiri) telah menetapkan untuk mengganti bahan bakar minyak (pada bajaj) dengan bahan bakar gas. Pak Supir tidak bandel, dan telah menaati peraturan pemerintah tersebut. Tapi pada kenyataannya, bajaj berbahan bakar minyak, yang berisik dan berasap tebal itu, masih saja banyak yang bergentayangan di jalan. “Pemerintah tidak konsisten” kata Pak Supir, tidak dengan geram, tapi dengan senyum kebapakannya yang “tabah”.

Terima kasih, Pak Supir. Sepetik kisah hidupmu telah memberikan pada saya realitas dari frasa, “bahagia itu sederhana”. Bagi saya, bahagia itu tetap merupakan sebuah kebetulan. Kebetulan saya bertemu Pak Supir yang berbahagia dengan kesederhanaannya. Salam! 

—Bagus Purwoadi, 2012

Agar Harapan Tak Kunjung Padam

Setelah hujan, suara kaki-kaki yang melangkah diam-diam menjejak genangan air - entah kenapa, di atas genangan air, langkah kaki selalu hati-hati, hati-hati yang bukan karena takut terpeleset - kemudian sapuan seikat lidi berbisik-bisik mengusir tetamu cair yang tiba-tiba datang tanpa diundang, lalu dipaggilah nama-nama bocah oleh lengking suara ibunya untuk pulang. 

Ada romantisme dalam hujan. Anak-anak kecil berlarian tak peduli pada segala apa yang terjadi selain dari kemurahan langit pada bumi. Tawa mereka menyambut air yang dikutuki bapak ibu mereka yang kalang kabut di bawah langit-langit rumahnya yang bocor. Hujan adalah tamu tak diundang di atas tanah yang tertutup aspal. Parit-parit penuh sampah menolak dan mengarahkan rombongan mereka ke dalam rumah. Dari selokan-selokan yang meluap, tikus-tikus got berpencaran bersama sekeluarga penyintas evolusi yang merambati rerangka kayu warung-warung menuju titik yang lebih tinggi. 

Kecoa dan tikus, sudah biasa berlalu lalang di antara kaki-kaki perempuan-perempuan tangguh yang tinggal di sela-sela gedung-gedung bertingkat, yang anak-anaknya pergi entah kemana, barangkali sedang menjajakan payung sewaan pada perempuan-perempuan yang bukan ibu mereka, sedang rumah mereka tak mampu memayungi kepala bapak dan ibu mereka sendiri. Ah, anak-anak ojek payung itu. Mereka jauh lebih tangguh daripada bayi-bayi montok iklan susu sehat di televisi. Mereka berlarian kesana kemari dengan tawa tiada henti, bertelanjang dada dan kaki, kurus kering dan tak “higienis”.

Ada romantisme dalam hujan. Sepasang pedagang asongan berbagi terpal di sudut jalan. Mereka tak tergesa-gesa, dengan demikian tak ada gelisah dan sumpah serapah. Di depan mereka, di jalanan, Tuan dan Nyonya besar yang terlindung nyaman dalam ruang ber-AC menyumpah-nyumpah dengan klakson. 

Ijinkan saya untuk tidak menyebutnya sebagai ironi, ijinkan saya untuk menyebutnya sebagai romantisme. Agar harapan pada kehidupan tak kunjung padam.

—Bagus Purwoadi, 2012

Saya menulis (semoga) dengan Bahasa yang kalian tahu

view archive



Kirim Saya Pesan