Aksaraloka

Saya menulis (semoga) dengan Bahasa yang kalian tahu

Menjelang pilpres, antusiasme rakyat Indonesia terhadap pemilu meningkat tajam. Tiba-tiba semua laman media sosial penuh dengan komentar-komentar warga, tentang dua pasang kandidat yang tengah berkontestasi dalam perhelatan lima tahunan tersebut. Antusiasme yang tak nampak dalam pemilu legislatif yang lalu itu tentu sangat menggembirakan. Siapa bilang rakyat Indonesia telah jadi warga negara yang apatis dan bersikap apolitis terhadap masa depan kehidupan politik Bangsanya? Bukalah laman media sosial Anda dan silahkan saksikan betapa meriahnya pesta demokrasi kita tahun ini! Sayang, nyaris dari semua komentar, terlebih komentar yang keluar dari anak-anak muda, cenderung negatif dan tak berdasar.

Pilpres kali ini hanya menyediakan dua kandidat untuk kita pilih. Dengan demikian, konsentrasi massa terbagi menjadi dua kutub. Sialnya, kedua kutub ini terbagi bukan karena perbedaan ideologi melainkan oleh rasa benci yang lahir dari cinta buta semata. Saya tak memilih A bukan karena ideologinya tak sesuai dengan saya melainkan karena B adalah Tuhan dan A tak lain adalah Iblis. Dengan cara berpikir sesakral itu, siapa pun yang terpilih, perang sipil bakal menanti di ujung sana. Orang bilang, inilah demokrasi, inilah pluralisme. Ini bukan demokrasi, Bung, ini barbarisme, sebab tiap orang semakin hari semakin siap untuk memenggal batang leher siapa pun yang berbeda pandangan dengannya. Ini mengerikan.

Lebih dari sekadar darah dan kematian, runtuhnya kebhinekaan dan cita-cita demokrasi dari para pendiri Bangsa ini di masa lalu membikin situasi saat ini jadi mengerikan. Pemilu bukan perang. melainkan proses pendewasaan kehidupan berdemokrasi. Lewat pemilu, kita belajar memilih apa yang bagi kita, secara pribadi, sesuai untuk kemajuan Bangsa ini. Sebab di pemilu kita memilih calon pemimpin Bangsa, dan melalui visi misi dan program dari masing-masing kandidat, kita bisa tahu yang mana yang paling sesuai dengan pandangan kita. Tapi lihat, begitu fasihnya mereka bicara soal keburukan kandidat lain, dan di sisi lain tergagap-gagap membicarakan visi misi dan progam kandidatnya masing-masing—atau bahkan, mereka tak tahu visi misi dan program kandidat yang mereka dukung.

Selain pemilu, sebagian dari kita pun menantikan datangnya piala dunia. Semoga semangat fair play dalam sepak bola dapat menular ke dalam kontestasi politik di negri ini. Semoga emosi dapat sedikit teredam dalam hingar-bingar piala dunia. Demi Tan Malaka, demi Pramoedya, dan demi siapa pun yang mencintai Bangsa ini dengan segala kebhinekaannya.

 

Jakarta, 13 Juni 2014

Zen RS bilang, Anda bisa belajar menulis dengan mentranskrip tuturan lisan. Caranya cukup mudah dan murah meriah; rekam pembicaraan seseorang, kemudian tulis! Yang dimaksud dengan, tulis, tentu bukan sekadar memindahkan suara, kata per kata, ke dalam sederetan huruf, sebab logika lisan dan tulisan tak selamanya sesuai. Yang dimaksud, tulis, yaitu benar-benar menulis, yaitu membuat tulisan, bukan tuturan yang hanya bisa didengar tapi tak bisa dibaca.

Hari ini narasumber saya adalah orang yang tuturannya paling susah ditranskrip. Ini bukan penilaian subyektif. Setidaknya, sekitar tiga sampai empat orang teman saya pun menyatakan hal yang sama. Wah, dia! Malas, ah! Ungkapan demikian sering terdengar dari mulut beberapa teman saya ketika harus berhadapan dengan narasumber yang satu ini. (sebaiknya tak saya sebut namanya dalam catatan ini. Yang pasti, ia adalah pejabat publik).

Sebagai pejabat publik, orang seharusnya pandai bicara, sebab kata-katanya, baik dalam bentuk lisan pun tulisan, bakal didengar dan dibaca banyak orang. Tapi kata-kata darinya ini seperti remah nasi yang keluar dari mulut dan hidung ketika kau bersin di tengah mulutmu yang tengah sibuk mengunyah. Kata-katanya berpencaran tak tentu arah dan harus dipunguti terlebih dahulu satu per satu untuk kemudian disusun jadi satu kalimat yang enak dibaca. Laju kalimatnya bak metromini, serong sana sini dan berhenti seenak udelnya sendiri. Mentranskrip tuturannya benar-benar bikin depresi. Siapa sebenarnya yang dungu di antara kami?—tentu saja saya harap dia yang dungu. Tapi kemudian saya ingat apa yang pernah diucapkan Rocky Gerung pada suatu hari, ketika bahasanya yang mewah dikritik oleh seorang wartawan. Adalah tugas pers untuk menyederhanakan bahasa mewah kaum elite intelektual, supaya kami dapat dipahami oleh masyarakat dari segala golongan, dan saya tidak akan meminta maaf untuk bahasa saya yang Anda nilai terlalu tinggi, begitu katanya.

Konteksnya jelas berbeda. Mentranskrip Rocky Gerung jauh lebih menarik, sebab ada tantangan untuk memutakhirkkan bahasa Indonesia dengan berusaha mencari padanan kata untuk tiap istilah ilmiah yang ia gunakan. Ia pun gemar bikin perumpamaan, dan itu membuat percakapan politik tak jadi kaku dan membosankan. Perumpamaan itu pun mempermudah si tukang transkrip menemukan padanan kata untuk istilah-istilah ilmiahnya. Walaupun konteksnya berbeda, tapi tuntutan Rocky untuk pers tersebut bisa dijadikan tanggungjawab, agar pers dapat dengan rendah hati memaklumi narasumber seperti yang saya hadapi hari ini. Saya ingat Tirto Adisuryo, Si Bapak Pers Indonesia itu, model dari idola saya, Minke, mengatakan, tugas pers adalah mengawal pikiran rakyat. Tanpa kerendahan hati, pers tak bakal mampu mengawal pikiran rakyat.

Jakarta, 28 Mei 2014

Jika memang berkas itu ada, kenapa pula mereka tak menyerahkannya pada lembaga negara yang memiliki wewenang untuk menindaklanjuti isu itu lebih lanjut. KPU tak pernah menerima berkas laporan yang dapat membuktikkan kewarganegaraan ganda Prabowo, begitu kata dua orang Komisioner KPU. Surat Keterangan Kementerian Hukum dan HAM pun menyatakan, Prabowo WNI tulen. Kemudian saya bertanya pada seorang teman wartawan, dari mana isu itu berasal. Dari TEMPO, katanya. Ah! Sejak mula memang media itu sudah memilih pihak. Walaupun saya bukan pendukung Sang Patriot, si tukang culik di zaman Orba itu, tapi keberpihakan media tersebut pada salah satu kandidat jelas membikin saya mual—siapa tak tahu bahwa pendirinya, bersama dengan sejumlah pengembang bisnis properti, jadi bagian dari proyek revitalisasi Kota Tua Gubernur. Prabowo didakwa, pernah menerima kewarganegaraan Yordania, dengan demikian, ia tak sah jadi calon presiden. Tapi bukti untuk menguatkan dakwaan itu hanya berkicau lantang di media sosial.  Kewarganegaraan Yordania Prabowo pernah dilansir Associated Press pada tahun 1998, katanya. Tapi bukankah yang berkepentingan telah lolos sebagai cawapres pada Pemilu 2009 yang lalu? Kenapa baru sekarang, baru saat ia melenggang jadi bakal capres, isu tersebut begitu gencar dikicaukan? Jika berkas itu benar-benar tak diserahkan, maka benar adanya, bahwa isu itu tak lain adalah salah satu bentuk dari kampanye hitam belaka. Dan tentu akan sangat menyedihkan, mengetahui bahwa kampanye hitam tersebut tumbuh dan berkembang begitu subur di kalangan para penggiat demokrasi, sebab demokrasi yang matang tak butuh kampanye hitam…

 

Jakarta, 26 Mei 2013

Ini karya, bukan? Sepertinya bukan, sebab gedung ini tengah direnovasi. Bisa jadi ini bagian dari renovasi gedung. Begitulah saya dan teman saya dibikin agak bingung di hadapan karya Andi Gunawan, Doubting Bodies, dalam pameran Manifesto No. 4, bertajuk, Keseharian, di Galeri Nasional. Doubting Bodies adalah sebidang tembok dengan posisi miring, yang terletak tepat di hadapan pintu masuk Gedung A Galnas, di mana pada tempat itu, biasanya, juga terdapat sebidang tembok—yang tentu saja tak dalam keadaan miring. Entah ke mana perginya tembok yang biasanya ada di sana hingga Andi bisa meletakkan karyanya di tempat itu. Di hadapan Doubting Bodies, saya dan teman saya benar-benar dibikin doubt, dan bagi saya, itu adalah karya paling jenius dalam pameran bertajuk Keseharian itu. ia mempermainkan pikiran pemandang, tanpa membawa konsep yang mengawang-awang di langit ketujuh, seperti konsep-konsep berbau isu sosial dan politik, misalnya. Bagi saya, yang sehari-hari bergelut dengan isu politik, Doubting Bodies adalah karya yang segar pun sedap untuk dipandang. Kesegaran macam itu adalah alasan bagus untuk berkunjung ke galeri seni. Kemudian dua orang teman saya berpaling ke karya berikutnya sementara saya masih berada di hadapan Doubting Bodies. Terdengar nada decak kagum dari mulut mereka, dan arah pandang saya pun menyusul ke hadapan tiga bidang lukisan yang tengah mereka kagumi. Jika saya adalah seorang murid sebuah sanggar melukis, barangkali saya pun bisa segera terpukau pada teknik realis dalam karya Tandya Rachmat dan Cecep M. Taufik. Tapi sayangnya saya adalah sarjana seni rupa, dan tiga karya dari dua seniman itu tampak biasa-biasa saja, sebab keindahan karya-karya itu hanya berhenti pada kesempurnaan teknis. Dan saya pun segera berpaling ke balik tembok bikinan Andi, di mana di sana terdapat sebuat set studio berkarya  M.Zico Abaiquni. Latar belakang hitam pada tembok dan beberapa batang lampu neon yang diletakkan sembarangan, hingga membuat pendar cahaya pada ruang bikinan itu memantul tak beraturan, menghadirkan kesan kesunyian sekaligus kemegahan. Sepertinya, Zico hendak menyampaikan pada pemandang, sebuah dunia yang sunyi yang berada di balik hingar bingar perayaan seni rupa Indonesia. Hal ini mengingatkan saya pada pesan rektor saya setahun lalu, usai saya menyelesaikan tugas akhir. Selamat datang di dunia seni rupa Indonesia yang sunyi, dan selamat berjuang dalam kesunyian itu, katanya. Yah, begitulah memang keadaannya dunia seni rupa, sunyi, dan kini saya terdampar di dunia politik yang kelewat gaduh. … ..

Jakarta, 25 Mei 2014

Hari ini giliran bakal pasangan Prabowo-Hatta yang menjalani pemeriksaan kesehatan di RSPAD Gatot Subroto. Pengawalan tampak lebih ketat. Ada dua lapis pagar manusia yang harus saya lewati terlebih dahulu sebelum saya bisa berada di antara wartawan lain untuk mendengar Prabowo bicara. Saya tak terbiasa menggunakan tanda pengenal, demikian juga pada hari ini, dan langsung nyelonong masuk melewati dua orang polisi militer yang berjaga di depan pintu.pagar, beberapa meter dari lapisan pertama pagar manusia. Salah seorang dari mereka memanggil. Dari mana, Mas? tanya dia. Pers, jawab saya pendek, tanpa menatap tampang si pemanggil. Pakai dong, ID Cardnya! Saya tak gubris teguran itu, dan langsung berlari ke hadapan pria-pria gagah berseragam yang saling mengaitkan lengan satu sama lain, membentuk pagar manusia. Saya telat datang, Prabowo sudah hampir menutup pernyataannya usai menjalani pemeriksaan kesehatan, dan pengawalan begitu ketat. Saya tak mendengar satu kata pun darinya. Hari ini ada lebih banyak tentara dan polisi dari kemarin. Pak, SDA (Surya Dharma Ali) gimana, Pak? pekik beberapa wartawan. Dan ia, ‘Sang Patriot’, yang akrab dengan isu pelanggaran hak asasi manusia itu, bungkam, meninggalkan podium, berjalan melalui pagar manusia sambil melambai-lambaikan tangan, menuju mobil pribadinya. Sejumlah tentara dan veteran yang menonton Sang Patriot dari balkon lantai dua rumah sakit bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Maju terus, Pak! seru mereka.

Satu hal yang saya pikirkan hari ini adalah polisi militer di depan pagar, dan barisan manusia berseragam cokelat yang mengawal Sang Patriot. Kenapa mereka sepertinya begitu takut pada mereka yang tak berseragam?

Seorang pengamat kepolisian yang juga adalah mantan polisi di masa Orde Baru mengatakan, dari dulu sampai sekarang strategi aparat kemanan itu sama saja, dari zaman Harto sampai sekarang podho ae, polisi negara. Polisi negara adalah polisi yang bekerja dan mengabdi untuk negara (bukan negeri, sebab sejak Orba, negara Indonesia telah menjadi perusahaan multinasional). Dengan demikian, majikan mereka adalah negara dan tugas utama mereka adalah menjaga stabilitas negara. Kita tahu bagaimana kamus Orba menerjemahkan kalimat itu; menjaga stabilitas negara. Menjaga dari siapa? Siapa musuh negara? Mengutip kaum Anarkis; musuh negara adalah masyarakat sipil. Jadi, negara dijaga dengan senjata, dari musuhnya yang tak bersenjata. Dan itu nyata sekali terlihat pada hari ini.

Di tempat itu hanya ada wartawan, dokter, dan aparat keamanan. Perbandingannya kira-kira, dua aparat untuk satu wartawan atau dokter. Apa yang mereka takuti dari para wartawan? Satu-satunya peluru wartawan adalah tulisan, dan tulisan tak dapat dilawan dengan bedil atau otot. Atau jangan-jangan mereka tak takut, melainkan membenci orang-orang yang tak berseragam. Mereka iri.

Dalam otobiografinya yang berjudul, Jalan Panjang Menuju Kebebasan, Nelson Mandela mengatakan, penjara tak hanya merampas kebebasan, melainkan juga merampas identitas, jati diri dari si manusia itu sendiri, dengan seragam. Jauh-jauh hari Victor Hugo juga mengatakan hal yang sama dalam karyatamanya, Les Miserables—sebuah karya yang membuat ia dihujat banyak orang, sebab banyak orang menangis oleh karenanya—di mana Javert, seorang inspektur, menyangkal nama Jean Valjean dan terus memanggilnya, 24601—nomor urut Valjean sebagai tahanan. Pramoedya menarik sudut pandang itu ke arah sebaliknya. Dalam sebuah catatan yang saya tak ingat judulnya, kurang lebih ia mengatakan begini, saya hanya ingat dari kesatuan apa dia berasal, saya tak lihat siapa namanya. Lagipula itu tak penting, sebab yang melakukan itu bukan dia, melainkan korpsnya. Catatan itu menceritakan tentang kekerasan fisik yang ia terima dari seorang tentara di P. Buru. Begitulah, satu orang manusia dalam seragam bakal melakukan apa yang seragam itu harus lakukan. Jadi, dalam sangkar yang bernama penjara, baik narapidana maupun petugas penjaganya sesungguhnya sama-sama orang tahanan. Mereka ditahan oleh seragam mereka masing-masing.

Maka saya tak akan berprasangkan buruk atau membenci mereka yang berseragam, sebab mereka perlu dikasihani, atas terampasnya jati diri demikian kebebasan mereka. Diberkatilah kita yang tak berseragam.

Jakarta, 23 Mei 2014

Menunggu adalah kegiatan paling membosankan, sampai kemudian kau bisa bersahabat dengan waktu. Menjelang sore tadi saya menunggu bakal calon pasangan capres dan cawapres, Jokowi-JK, menyelesaikan pemeriksaan kesehatan untuk memenuhi syarat pendaftaran calon presiden dan wakil presiden 2014. Pemeriksaan dilakukan di RSPAD Gatot Subroto, Senen, dan berlangsung sejak pukul tujuh pagi hingga menjelang maghrib. Sebelumnya saya ke DKPP, lagi-lagi untuk menghadiri sidang konyol dari caleg gagal yang tak puas dengan hasil pileg kemarin. Pemeriksaan kesehatan Jokowi dan JK baru selesai menjelang maghrib. Saya punya banyak waktu untuk melakukan kegiatan paling membosankan itu; menunggu. Tapi toh saya sudah bisa bersahabat dengan waktu, dengan menyediakan sesajen berupa rokok dan secangkir kopi seharga tiga ribu, juga sebuah buku. Kali ini saya ditemani Tan Malaka, dalam Jail jilid ketiganya, di bawah atap halte RSPAD. Di samping saya duduk seorang polisi—melihat emblem di seragamnya, sepertinya ia punya pangkat tinggi—mengobrol dengan seorang tukang ojek dan penjual kopi. Obrolan mereka tak bisa ditolak, sekeras apapun Tan Malaka berteriak.  Sementara Si Kuntet dari Bukit Tinggi dalam buku merumuskan perbedaan revolusi di Perancis, Rusia, dan Indonesia, Pak Polisi di samping saya mengulang ucapan Sukarno, Ganyang Malaysia! Menurutnya, Presiden Indonesia ke depan harus berani mengambil tindakan keras terhadap Malaysia. Kalo perlu perang kita perang sekalian, kata dia. Negara kecil begitu, sekali kepung gelagapan, dia! Seandainya Mahkamah Internasional menentang pun kita lawan sekalian, begitu kata dia. Si tukang ojek manggut-manggut, si penjual kopi mulai menyalakan sebatang rokok untuk yang entah keberapa kalinya, dan pak polisi terus bercericau. Coba saya perhatikan lagi penampilan pak polisi itu. Saya perkirakan usianya lebih tua dari Ayah saya. Jadi, pak polisi ini tak lama lagi bakal pensiun….dan ia berbicara soal perang. Barangkali karena tak mendapatkan tanggapan yang antusias baik dari si tukang ojek maupun si penjual kopi, obrolan pun bubar. Seandainya mereka mengobrol soal pelacur-pelacur Senen, saya yakin percakapan bakal jadi panjang dan tak berjalan searah.

 

Jakarta, 22 Mei 2014

Beberapa caleg datang dari kalangan pengusaha yang sesungguhnya tak siap betul untuk menjadi seorang pejabat publik. Contohnya hari ini. Seorang caleg gagal dari Sulawesi Tengah berusaha menekan DKPP untuk memberi sanksi pada jajaran Panwaslu di daerahnya, sebab ia merasa bahwa laporannya tak ditindaklanjuti dengan serius. Ia melaporkan bahwa seorang caleg, yang berasal dari partai dan dapil yang sama dengan dirinya, telah melakukan kegiatan kampanye dengan menggunakan fasilitas negara, dalam hal ini Balai Desa. Jajaran Panwas menjawab, mereka telah menindaklanjuti laporan darinya hingga ke tingkat kepolisian, dan kepolisian menghentikan penyidikan terhadap kasus itu, sebab caleg yang diduga melakukan kampanye tak terdaftar dalam Surat Keputusan sebagai pelaksana kampanye—daftar ini diterbitkan oleh KPU setempat. Seandainya pelapor tahu betul bagaimana regulasi penanganan pelanggaran hukum pemilu, ia tak bakal datang ke DKPP dan mengajukan jajaran Panwaslu sebagai pihak Teradu. Kasus macam ini sangat klise, terjadi di mana-mana; di mana pihak kepolisian menghentikan kasus pelanggaran hukum pemilu dengan alasan ini-itu, sebab pemilu melibatkan banyak hantu yang bekerja secara sporadis. Jejak mereka begitu susah dilacak, dan mereka, kepolisian, tak mau repot—bagaimana caranya mengawasi jutaan opurtunis yang bergerak bak kutu loncat, dari caleg satu ke yang lain, sementara, kau tahu, ada sekitar lima belas ribu caleg untuk satu partai peserta pemilu pada tahun ini? Seandainya pun bau busuk kutu-kutu itu sampai terendus, toh mereka punya banyak uang, juga kekuasaan—sebab di negeri ini, uang berbanding lurus dengan kekuasaan—untuk membungkam aparat penegak hukum. Si caleg gagal berkeras agar laporannya ditangani sampai tuntas. Di sisi lain penyelenggara, DKPP dan Panwas,  tak lagi punya wewenang ketika kasus telah sampai ke tangan kepolisian, sebab Undang-Undang telah menyatakan demikian. Anda punya fraksi di parlemen, dan mereka yang bikin Undang-Undang. Kami menjalankan sesuai dengan apa yang bos-bos Anda di parlemen itu tetapkan. Demikian kata Ketua Majelis Sidang. Demikianlah, caleg-caleg dibikin tampak tolol oleh regulasi yang bos-bos mereka sendiri rancang. Regulasi yang tak mereka pahami, sebab mereka hanya pengusaha.

Jakarta, 21 Mei 2014

Orang bilang, kehidupan berputar seperti roda. Mungkin benar begitu jalannya, sang hidup itu. Tapi aku kira roda itu tak menggelinding seperti roda pada umumnya, melainkan berputar dalam keadaan rebah seperti gasing. Ia berputar pada satu poros, berangkat dan berhenti pada titik yang itu-itu juga.

Tapi apakah kemudian hidup itu jadi tak bernilai? Ya hidup itu memang tak bernilai. Siapa pula peduli pada hidup seekor serangga? Sekali semprot pestida, ribuan mati seketika. Tapi kita bukan serangga, katamu. Aku bicara soal hidup, bukan soal manusia atau serangga, atau kucing piaraan dan kakek-nenekmu yang tak berguna, atau pohon-pohon berposter caleg di pinggir-pinggir jalan raya. Aku bicara soal hidup. Itu saja. Tapi, kau terus berharap bahwa hidup itu memiliki nilai. Barangkali kau harus mengerti, sesungguhnya manusia adalah satu-satunya makhluk yang paling gigih mencari nilai. Setidaknya begitu kata Albert Camus.

Seekor kucing bisa jadi lebih berharga dari masa depan seorang Ayah beranak satu—mungkin dua atau tiga—demikian keluarganya. Sepasang kekasih bisa jadi lebih hina dibandingkan sekelompok pembantai berseragam. Juga beberapa batang pohon jauh lebih bernilai dari harapan seorang caleg. Lihat, betapa relatifnya nilai itu menempel pada kehidupan, baik itu kehidupan seekor kucing maupun kehidupan dari sepasang kekasih yang barangkali sakit jiwa, atau kehidupan sebatang pohon.

Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya. Bukan begitu, Tuan Pangemanann? Relativitas nilai kehidupan ternyata hanya sebuah tafsiran, dan tafsiran hanyalah permukaan dari sebuah kebenaran.  Dan aku katakan padamu sekali lagi, hidup itu sungguh tak bernilai seperti kata Monsieur Camus. Biasa-biasa saja, kata Tuan Pangemanann. Itulah kebenaran, setidaknya kebenaranku sendiri. Namun demikian aku pun tahu belaka bahwasanya hidup yang biasa-biasa saja ini sungguh sangat mengerikan. Tak seorang pun sudi terapung-apung dalam kebiasa-biasaan ini. Hidup yang biasa-biasa saja adalah hidup yang hampa. Baik kau dan aku tentu tak mau jadi seperti Dr. Ryan Stone. Kan, begitu?

Tapi mengingat bahwa nilai yang kita bikin-bikin sendiri itu begitu relatif, tentu tak apa jika aku anggap bahwa hidup ini sesungguhnya hanya berputar seperti gasing. Aku tak percaya pada eskalasi nilai manusia secara keseluruhan. Kau tak akan pernah ada di atas jika kau tak pernah memandang tinggi dirimu sendiri. Tak perlu kau hibur-hibur diri sendiri dengan mengatakan, hidup berputar seperti roda; semua akan baik pada waktunya. Kenapa harus menunggu hanya untuk menjadi baik? Raskolnikov tak pernah menunggu, demikian pula Don Quixote.

Hari ini aku ingin katakan padamu bahwa sejumlah mimpi telah terpenuhi. Ya, walaupun itu semua terpenuhi dengan agak sedikit terlambat, setidaknya bagi sebagian orang. Tapi kurasa tak ada kata terlambat bagi kau dan aku karena kita tak pernah mengenal konsep waktu. Kan begitu?

Aku sedang duduk di atas bianglala, memandang udara di sekelilingku yang dipenuhi dengan cermin-cermin. Roda raksasa itu berputar dan mengangkat aku tinggi-tinggi tapi yang kulihat hanya diriku dan diriku sendiri. Demikian pula yang terjadi ketika putaran bianglala membawa aku ke tempat yang lebih rendah, hanya pantulan bayanganku belaka yang tertangkap oleh sepasang mataku ini. Sepasang mata yang dulu begitu gandrung menangkap bayanganmu itu tak lagi menemukan tempat bertumbuk selain dari bayangannya sendiri. Kau menghilang bersama dengan bayanganmu. Mungkin pergi ke balik cermin, seperti juga yang terjadi pada orang-orang yang telah mati. Atau barangkali sesungguhnya kau bahkan tak pernah ada.

Jakarta, 7 April 2014

Retrofleksi: Sebuah Refleksi Pengalaman Estetik dan Intelektual

refreshink:

Salah satu kendala dari sarjana seni cetak untuk konsisten berkarya selepas kuliah adalah, minimnya prasarana pendukung yang tersedia di luar kampus. Mesin cetak untuk etsa dan torehan kering (drypoint) tak dijual bebas di Indonesia. Seandainya dijual pun, harganya pasti tak terjangkau bagi…

Terapi Melankoli

refreshink:

Lamentations spring only from the constant craving to reopen the wound—Fyodor Dostoevsky

Di hadapan serial karya Agung T.Wijaya, pemandang akan dibawa ke sebuah dunia di mana segala sesuatunya begitu tenang dan baik-baik saja. Bentuk-bentuk sederhana dengan warna-warna yang lembut dan manis…