Aksaraloka

Saya menulis (semoga) dengan Bahasa yang kalian tahu

Orang bilang, kehidupan berputar seperti roda. Mungkin benar begitu jalannya, sang hidup itu. Tapi aku kira roda itu tak menggelinding seperti roda pada umumnya, melainkan berputar dalam keadaan rebah seperti gasing. Ia berputar pada satu poros, berangkat dan berhenti pada titik yang itu-itu juga.

Tapi apakah kemudian hidup itu jadi tak bernilai? Ya hidup itu memang tak bernilai. Siapa pula peduli pada hidup seekor serangga? Sekali semprot pestida, ribuan mati seketika. Tapi kita bukan serangga, katamu. Aku bicara soal hidup, bukan soal manusia atau serangga, atau kucing piaraan dan kakek-nenekmu yang tak berguna, atau pohon-pohon berposter caleg di pinggir-pinggir jalan raya. Aku bicara soal hidup. Itu saja. Tapi, kau terus berharap bahwa hidup itu memiliki nilai. Barangkali kau harus mengerti, sesungguhnya manusia adalah satu-satunya makhluk yang paling gigih mencari nilai. Setidaknya begitu kata Albert Camus.

Seekor kucing bisa jadi lebih berharga dari masa depan seorang Ayah beranak satu—mungkin dua atau tiga—demikian keluarganya. Sepasang kekasih bisa jadi lebih hina dibandingkan sekelompok pembantai berseragam. Juga beberapa batang pohon jauh lebih bernilai dari harapan seorang caleg. Lihat, betapa relatifnya nilai itu menempel pada kehidupan, baik itu kehidupan seekor kucing maupun kehidupan dari sepasang kekasih yang barangkali sakit jiwa, atau kehidupan sebatang pohon.

Hidup sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya. Bukan begitu, Tuan Pangemanann? Relativitas nilai kehidupan ternyata hanya sebuah tafsiran, dan tafsiran hanyalah permukaan dari sebuah kebenaran.  Dan aku katakan padamu sekali lagi, hidup itu sungguh tak bernilai seperti kata Monsieur Camus. Biasa-biasa saja, kata Tuan Pangemanann. Itulah kebenaran, setidaknya kebenaranku sendiri. Namun demikian aku pun tahu belaka bahwasanya hidup yang biasa-biasa saja ini sungguh sangat mengerikan. Tak seorang pun sudi terapung-apung dalam kebiasa-biasaan ini. Hidup yang biasa-biasa saja adalah hidup yang hampa. Baik kau dan aku tentu tak mau jadi seperti Dr. Ryan Stone. Kan, begitu?

Tapi mengingat bahwa nilai yang kita bikin-bikin sendiri itu begitu relatif, tentu tak apa jika aku anggap bahwa hidup ini sesungguhnya hanya berputar seperti gasing. Aku tak percaya pada eskalasi nilai manusia secara keseluruhan. Kau tak akan pernah ada di atas jika kau tak pernah memandang tinggi dirimu sendiri. Tak perlu kau hibur-hibur diri sendiri dengan mengatakan, hidup berputar seperti roda; semua akan baik pada waktunya. Kenapa harus menunggu hanya untuk menjadi baik? Raskolnikov tak pernah menunggu, demikian pula Don Quixote.

Hari ini aku ingin katakan padamu bahwa sejumlah mimpi telah terpenuhi. Ya, walaupun itu semua terpenuhi dengan agak sedikit terlambat, setidaknya bagi sebagian orang. Tapi kurasa tak ada kata terlambat bagi kau dan aku karena kita tak pernah mengenal konsep waktu. Kan begitu?

Aku sedang duduk di atas bianglala, memandang udara di sekelilingku yang dipenuhi dengan cermin-cermin. Roda raksasa itu berputar dan mengangkat aku tinggi-tinggi tapi yang kulihat hanya diriku dan diriku sendiri. Demikian pula yang terjadi ketika putaran bianglala membawa aku ke tempat yang lebih rendah, hanya pantulan bayanganku belaka yang tertangkap oleh sepasang mataku ini. Sepasang mata yang dulu begitu gandrung menangkap bayanganmu itu tak lagi menemukan tempat bertumbuk selain dari bayangannya sendiri. Kau menghilang bersama dengan bayanganmu. Mungkin pergi ke balik cermin, seperti juga yang terjadi pada orang-orang yang telah mati. Atau barangkali sesungguhnya kau bahkan tak pernah ada.

Jakarta, 7 April 2014

Retrofleksi: Sebuah Refleksi Pengalaman Estetik dan Intelektual

refreshink:

Salah satu kendala dari sarjana seni cetak untuk konsisten berkarya selepas kuliah adalah, minimnya prasarana pendukung yang tersedia di luar kampus. Mesin cetak untuk etsa dan torehan kering (drypoint) tak dijual bebas di Indonesia. Seandainya dijual pun, harganya pasti tak terjangkau bagi…

Terapi Melankoli

refreshink:

Lamentations spring only from the constant craving to reopen the wound—Fyodor Dostoevsky

Di hadapan serial karya Agung T.Wijaya, pemandang akan dibawa ke sebuah dunia di mana segala sesuatunya begitu tenang dan baik-baik saja. Bentuk-bentuk sederhana dengan warna-warna yang lembut dan manis…

Surat Cinta untuk Pramoedya

Tabik, Bung! Apa kabar?

Surat ini aku tulis pada hari jadimu yang ke-89 untuk menunjukkan, betapa aku sangat mengagumimu. Kau tak mengenalku, tapi aku mengenalmu—setidaknya, aku mengenalmu jauh lebih baik dari aku mengenal penulis lain. 6 Februari 1925, kan itu hari jadimu? Maka pertama-tama izinkan aku mengucapkan, Dirgahayu, padamu hari ini.

Ada dua hal yang mengawali pertemuanku denganmu—bukan pertemuan ‘kita’, karena kau tak pernah bertemu denganku. Yang pertama adalah pertemananku dengan Asep Topan. Berikutnya adalah sebuah proyek yang memungkinkan aku untuk memiliki uang saku lebih. Aku sudah pernah menulis tentang itu beberapa waktu yang lalu. Aku rasa tak perlulah itu, sentimentalisme yang mengembik-embik—seperti kata Kolya Krassotkin—untuk menggambarkan sebuah pertemuan.Lagipula  pertemuan seringnya hanya merupakan sebuah kebetulan. Dan kebetulan yang dilebih-lebihkan? Kan itu adat orang-orang tua yang masih terkurung dalam gelapnya rimba belantara takhayul warisan kakek-moyang mereka?! Jadi, baiklah kita lupakan pertemuan pertamaku denganmu itu dan izinkanlah aku memulai kesaksianku tentang pengaruh karyamu terhadapku.

Bumi Manusia adalah karya pertama darimu yang aku baca. Ia menghancurkan nilai-nilai adiluhung tentang segala apa yang kau sebut sebagai, Javanisme. Kau tahu, sebelum aku bertemu dengan Minke, aku adalah seorang javanis. Aku bangga dengan kejawaanku, seperti juga setiap kakek-moyangku bangga pada segala sesuatu yang berbau Jawa. Kau perkenalkan aku pada Minke, bagian dari Bangsa Jawa yang tak memiliki kebanggaan apa-apa atas segala prestasi kakek-moyangnya di masa lampau. Seniorku bilang, kebanggaan terhadap yang lampau tak lain adalah sebuah romantisme yang buang-buang waktu belaka. Sialnya kalian benar. Aku terus mengangguk setuju mengikuti Minke yang selalu menggerutu. Bisa jadi karena Minke menyampaikan gagasannya dengan menggerutu pada dirinya sendiri yang kemudian membuat aku membenarkan pikiran-pikirannya. Ia tak mendikte. Dengan demikian, kekesalan dan ketakberdayaan dalam melawan sudut pandang lingkungannya menumbuhkan simpatiku terhadapnya. Kau tahu, perasaan simpati cenderung melahirkan pembenaran-pembenaran. Sejak Bumi Manusia, Bung, mengikuti apa yang selalu kau nyatakan tentang dirimu, aku akan bilang bahwa aku adalah Anak Semua Bangsa, seorang bekas Jawa.

Kau tahu, temanku bilang aku tak baca Bumi Manusia, aku mengaji dengan menggunakan kitab itu! Ya, jika memang ada yang namanya cinta sejati, barangkali Bumi Manusia adalah cinta sejatiku. Seperti cinta seorang muslim pada kitab sucinya; seperti kesetiaan Ayah pada Al Qurannya yang tak bersampul lagi itu. Begitulah perasaanku pada anak rohanimu itu, Bung. Aku kira, tak ada karya lain selain Bumi Manusia, yang dapat menggambarkan dengan lebih dramatis sebuah proses benturan budaya—Hey, aku membaca Salah Asuhan dari Abdoel Moeis dengan perasaan bosan tak terperi, tapi tolong jangan sampaikan ini padanya, ya.

Benturan budaya melibatkan perbedaan, dan aku selalu suka persoalan yang melibatkan perbedaan. Kau tahu, anak-anak muda generasiku gandrung betul tampil beda. Aku? Aku justru ingin tampil serupa dengan mereka; aku ingin menjadi bagian dari mereka. Tak tahulah aku kenapa aku tak pernah bisa menjadi bagian dari mereka. Bukan karena aku ingin tampil beda—sungguh mati aku tak ingin berbeda. Barangkali aku terlalu keras kepala, congkak, dan sok tahu. Tunggu..tunggu! Bukankah Minke juga demikian?! Ya, itulah Minke; keras kepala, congkak, dan sok tahu. Itu adalah tafsiranku terhadapnya.

Kau tahu, Minke adalah semacam role-model bagiku, juga mungkin bagi setiap orang yang membaca Bumi Manusia. Tapi coba, Bunda memanggil putra kesayangannya itu dengan sebutan, Gus. Jadi, ketika Bunda berbicara dengan Minke, aku mendengar ia juga menyebut namaku. Kan? Kan begitu? Dan, kau tahu, hubungan Bunda dan Minke adalah stimulan yang memacu jantungku berdetak lebih kencang dan membuat sekujur tubuhku bergetar. Sampai sekarang pun, ketika aku membaca untuk entah yang keberapa kalinya, tanggapan emosiku terhadap adegan antara Minke dan Bunda tak pernah menjadi biasa-biasa saja. Kau bisa anggap aku berlebihan, tapi di hari jadimu ini aku berkata jujur padamu.

 Jadi begini, bagiku hubungan Minke dan Bunda adalah hubungan paling tragis Ibu dan Anak. Aku akui, aku tak kuat membacanya. Adegan menjelang pernikahan Minke dengan Annelies, adegan di mana Bunda mendandani putra kesayangannya itu dengan adat Jawa, benar-benar membuatku merasa sesak nafas. Betapa kau telah menyiksa Bunda sedemikian rupa. Kau tahu, pada saat aku membacanya, aku mendengar doa Bunda, Bung, karena itulah doa setiap Ibu terhadap putra yang telah mengembara jauh meninggalkan liang rahim mereka. Itu adalah cinta yang tertinggal di belakang, yang selalu menunggu dan siap untuk menyambut kembali kepulangan Sang Tercinta. Kau buat Bunda tetap bersetia pada para leluhur, dan di saat yang sama kau pun membuatnya untuk selalu siap membela putranya itu dari murka para roh penjaga tradisi.

“Bunda tak hukum kau. Kau sudah temukan jalanmu sendiri. Bunda takkan halangi, juga takkan panggil kembali. Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik.” Begitulah kata Bunda pada Minke. Kau tak tahu betapa tajam kata-kata itu tertuju padaku.

Kemudian, selanjutnya harus aku katakan padamu betapa aku tak pernah berhenti mengagumi sekaligus membenci bagaimana caramu dalam menghadirkan pertempuran yang sama pada satu tubuh. Annelies adalah medan perang antar budaya—Jawa dan Eropa. Di dalam diri Annelies, konflik itu terjadi dan menggerogoti mental gadis manis kebocah-bocahan tersebut. Sementara Bunda dan Minke adalah tesis dan antitesis yang terus menghadirkan diskursus budaya, Annelies, seorang diri, tak lain adalah sebuah sintesis yang gagal. Kenapa pula kau harus menanggungkan konflik yang sama seperti yang dihadapi oleh Minke dan Bunda pada diri Annelies seorang? Kau tahu, aku bahkan harus berhenti membaca untuk menarik nafas dalam-dalam ketika Annelies menyuapi Minke, suaminya, dan berkata, “Sekali dalam hidup, biarlah aku suapi suamiku.” Ya, aku berhenti sejenak, karena Annelies pun kemudian diam. Di sisi lain, pada bagian selanjutnya, kau membuatku menghadapi kematian Annelies dengan perasaan yang biasa-biasa saja. Kau ini tahu betul, rupanya, bagaimana memulai dan mengakhiri

Kau tahu, setelah Bumi Manusia dan tiga sekuelnya, karya-karyamu yang lain yang kemudian aku baca tak terlalu memengaruhiku secara emosional. Tapi itu tak membuatku berhenti mengagumimu. Arok Dedes dan Arus Balik cukup menggelitik rasa penasaranku perihal sejarah Bangsa kita. Kau rancang ulang setiap pengetahuanku terkait sejarah prakolonial Bangsa ini sedemikian rupa dan membuatku harus mengkaji kembali isi otakku. Tapi tunggu, dalam Arus Balik aku bertemu dengan Sayid Habibullah Almasawa. Dengar, mengikuti kelakuan Syahbandar Tuban itu, Bung, aku terbakar amarah seorang diri! Bahkan Pangemanann, anti-hero dalam Rumah Kaca, tak pernah tampil semenyebalkan Si Bongkok berhidung bengkung tersebut! Habibullah Sayid Almasawa adalah tokoh paling menyebalkan yang membuatku terus menarik-narik rambutku sendiri. Aku tak pernah menemukan tokoh semenyebalkan itu! Dan, Jagad Batara! Kau biarkan Idayu diperkosa olehnya! Aha! Ini mengingatkanku tentang bagaimana kau menggambarkan hubungan seksual. Aku beri tabik padamu sekali lagi, Bung! Ajip Rosidi bilang, kisah cinta Minke dan Annelies adalah kisah cinta yang konyol, kisah cinta untuk anak-anak. Sama halnya dengan penggambaran hubungan seksual antara Minke dan Annelies, kau gambarkan pemerkosaan Almasawa terhadap Idayu dengan cukup santun—penandanya yang santun, bukan apa yang ditandai, tentu. Kau tak pernah bawa-bawa keluar itu barang yang tersimpan di balik celana. Kau menggambarkan apa yang dibayangkan Minke, kau menggambarkan apa yang ada di kepala Idayu. Kau gambarkan alam bawah sadar mereka dengan perumpamaan tentang alam dalam sekejap, dan tiba-tiba semua selesai. Ya, selesai begitu saja. Hubungan seksual adalah hubungan purba yang tak perlu dirayakan secara berlebihan. Setiap orang tahu belaka apa yang terjadi di atas ranjang. Kau mengeluarkan apa yang tak dilihat orang.

Kemudian tibalah saat di mana aku berhadapan dengan sebuah memoir yang kau namai, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Ya, kau meledak di sini. Kepedihanmu nyata adanya, dan aku jadi benci pada segala apa yang kau benci.

Surat pertama yang kau tujukan pada Putri Pertamamu, Pujarosmi, yang kau namai, Perenungan dalam Pengapungan, membuat pedih sepasang mataku. Kini aku tahu belaka, kenapa kau begitu ahli dalam menghadirkan kekejaman-kekejaman yang harus ditanggungkan oleh umat manusia. Kepedihan itu, kau merasakannya sendiri; kepedihan itu adalah kepedihanmu sendiri. Dan, kau menyampaikannya dalam karya-karyamu agar kemanusiaan setiap manusia terpanggil dan sudi untuk berteriak bersama amarahmu. Dan aku katakan padamu, peduli setan dengan Goenawan, yang mendakwa bahwa kau adalah seorang pendendam. Ia tak rasakan apa yang kau rasakan, Bung. Pernahkah ia merasa betapa sakit menjadi seorang Ayah yang dipisahkan secara paksa dari anak-anak dan bininya?! Apa pula urusannya bawa-bawa Mandela untuk dibanding-bandingkan denganmu?! Kenapa pula ia begitu khawatir, kau akan menjadi seorang fasis. Seorang fasis akan menjadi monster hanya ketika ia menjadi penguasa. Aku tahu kau tak bakal jadi penguasa, kau bahkan menolak perjuangan bergerombol karena, seperti katamu, hidup bukan pasar malam. Kau menolak kekuasaan dan memilih untuk selalu berada di pinggir. Satu-satunya yang harus khawatir pada dendam kesumatmu tak lain adalah pihak penguasa. Bisa jadi ia ada di pihak itu. Siapa tahu? Martin Aleida bilang, ia adalah seorang intel yang baik, seorang oportunis. Siapa tahu?

Dengar, aku punya sebuah cerita. Seseorang yang tak kukenal berkata padaku bahwa namamu hanya dibesarkan oleh kontroversi politik pada masa Orde Baru. Aku bertanya padanya, Anda pernah membaca karyanya? Belum, katanya. Kemudian, pada kesempatan lain, seorang dosen sekolah tinggi bertanya padaku, siapa idolamu, Nak? Ah, pertanyaan yang terlalu mudah bagiku. Dan, betapa aku tercengang tak percaya ketika ia bertanya, “Memang, apa sih, sumbangan sosialnya?” Lho, Anda ini belum baca bukunya? Kataku. “Maksud saya adalah, sumbangannya secara konkrit pada masyarakat. Kalau buku itu kan karya sastra,” ujarnya. Duh, Pak Dosen ini! Memangnya karya sastra tak mampu menyumbangkan apa-apa terhadap kehidupan bermasyarakat?! Kenapa tak kalian bakar saja para sastrawan beserta karya-karyanya seperti pada Malleus Maleficorum di abad pertengahan?!  Kau, yang telah melahirkan karya-karya pamungkas di bawah penderitaan yang tak sembarang orang mampu menanggungkannya, masih dipertanyakan, oleh seorang dosen pula? Pak Dosen ini, coba datang ke P.Buru dan lihat bagaimana keadaannya sekarang! Jika memang sastra, menurut Anda, tak menyumbangkan apa-apa pada kehidupan, Anda tengok saja itu P. Buru!

Begitulah, entah kenapa aku selalu emosi ketika orang mempertanyakan sumbangsihmu. Orang bilang, tak baik mengkultuskan seseorang. Tapi sampai saat ini aku tak kuasa untuk tak mengkultuskanmu. Siapa bisa menandingi Bumi Manusia? Siapa bisa menandingi penderitaanmu? Rasa cintamu pada Bangsa ini adalah sebuah melankoli magis yang tak mudah untuk ditampik. Adakah seorang warga Negara yang tetap mencintai Bangsanya dalam penderitaan seperti dirimu? Kau, yang telah menyampaikan penderitaan Bangsa ini di bawah kolonialisme dalam sudut pandang kaum terjajah. Kau, yang turut berjuang di medan perang sebagai tentara revolusi menghadapi Bangsa Belanda. Kau, yang telah memberikan sumbangan besar atas nama Indonesia kepada dunia. Indonesia yang kau cintai dengan darah dan tetes air mata, Indonesia yang kau bela dengan sepenuh jiwa dan raga, Indonesia yang mengasingkanmu ke P.Buru, memisahkanmu dari anak binimu, mengirimmu ke happyland somewhere….

Barangkali hari ini pun kau telah menerima banyak surat. Pasti surat-surat itu jauh lebih baik dariku. Mentor di kelas penulisanku bilang, tulisanku jelek. Tapi lihat, aku tetap menulis untukmu. Kau yang membuatku begini gandrung untuk menulis. Bahkan aku bekerja sebagai seorang jurnalis agar aku tetap bisa menulis. Kau tahu, aku baru ingat siang tadi, di tengah-tengah liputan,  bahwa hari ini adalah hari jadimu. Jadi suratku ini aku buat dengan agak terburu-buru. Aku menuliskannya sembari menulis berita hari ini.

Apa kabarmu di sana, Bung? Semoga baik-baik saja. Bolehkah aku menitip salam pada Minke? Katakan padanya, lain waktu akan aku tulis pula surat untuknya. Hey, kau telah bersatu dengan binimu di sana, di happyland somewhere yang sebenarnya. Aku tahu kau telah berbahagia bersamanya, perempuan tangguh dengan ketulusan cinta yang tak tertandingi. Kau tetap di hatiku, Bung, juga di hati setiap anak yang dibaptis di bawah kitab-kitab yang telah kau wariskan pada kami. Sampai jumpa lain waktu! Tabik!

Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles………

 

Jakarta, 6 Februari 2014

Bagus Purwoadi

Balada Para Kamerad Tua

Di luar gedung, mereka berteriak lantang. Ribut sekali cericau mereka di ruang publik belakangan ini. Mereka ini gandrung betul melawan sistem. Mereka ini manusia-manusia yang mengklaim diri sebagai manusia bebas yang memperjuangkan kebebasan. Salah seorang dari mereka bertanya pada seorang kameradnya, begitu mereka biasa memanggil satu sama lain, “dari mana saja, Bung? Susah betul mencarimu akhir-akhir ini.” Yang ditanya menjawab, “Sesungguhnya mudah jika Bung ingin mencari saya. Saya selalu berada di tengah-tengah rakyat.”

O, ini bukan percakapan pada tahun ’45, Saudara-saudara. Di luar sana tak sedang terjadi baku tembak. Ini adalah percakapan yang saya dengar di sebuah ruangan yang dilengkapi dengan tujuh perangkat pendingin udara dan terletak di lantai tiga sebuah gedung perkantoran. Ruangan berukuran sedang itu dikondisikan sedemikian rupa untuk menggelar rapat-rapat tertutup. Tujuh perangkat pendingin udara, Saudara-saudara! Sedang ruangan itu berkapasitas tak lebih dari 10 orang!  Di dalam ruangan, orang-orang yang mengaku selalu berada di tengah-tengah rakyat ini bahkan tak kelihatan seperti rakyat kebanyakan. Mereka lebih menyerupai inlander yang gemar wara-wiri di sekitar lingkungan para Tuan, selalu bertampang necis dan menenteng perabotan paling mutakhir bulan ini.

Rapat dengar pendapat akan segera dimulai. Mereka, maksud saya, para kamerad yang selalu berada di tengah-tengah rakyat itu, hendak menuntut pada lembaga pemegang otoritas yang ‘konon’ bersifat independen. Apa yang sedang mereka perjuangkan saya rasa tak terlalu penting untuk Saudara ketahui. Lagipula, belakangan ini ada banyak hal yang diperjuangkan atas nama ini dan itu. Yang ingin saya catat dan tunjukkan pada saudara adalah, apa yang terjadi dalam ruangan ini dapat terjadi pada ruangan yang lain; apa yang terjadi di hadapan saya ini dapat terjadi pada segala macam perjuangan yang ada di luar sana.

Para pejabat lembaga belum datang sementara para kamerad telah lengkap. Bapak yang bertanya pada kameradnya, demikian pula yang ditanya, berusia sekitar 50 tahunan. Tiga orang lainnya yang datang bersama mereka masih muda, barangkali sekitar 30 s/d 35 tahun, terdiri dari dua orang laki-laki dan seorang perempuan yang perhatiannya seolah tak dapat dialihkan dari layar 14 inchi di hadapannya. Mereka yang lebih tua bercakap-cakap penuh semangat dan mengolok-olok lembaga yang sedang mereka datangi hari itu. Lembaga yang tak punya prinsip, mengaku independen tapi mengabdi pada kepentingan penguasa, kata mereka. Hey, tunggu dulu! Bukankah Independen berarti bebas. Dan jika lembaga independen tersebut kemudian memilih untuk mengabdi pada kepentingan pemodal, lalu kenapa Bapak-bapak ini harus marah-marah? Itu karena kepentingan mereka mengorbankan kemaslahatan orang banyak, Nak! Baik, kemaslahatan orang banyak. Begitu mulia rupanya perjuangan Bapak-bapak sekalian.

Nah, sekarang hadir di ruangan, dua orang perwakilan dari lembaga tertuntut. Seorang pejabat pria, yang sepantaran umurnya dengan bapak-bapak pejuang kemaslahatan orang banyak itu, masuk terlebih dahulu. Tampangnya tak terlihat cerdas. Setelan jas dan dasi yang ia kenakan tak membuatnya tampak lebih terpelajar. Barangkali Saudara pernah melihat sejenis kurcaci yang bernama Sutan Batoegana. Nah, seperti itulah penampilan Tuan yang satu ini. Berkebalikan dengan penampilan kurcaci berdasi itu, menyusul kemudian seorang perempuan paruh baya yang penampakannya tak bisa membuat sepasang mata saya—dan mungkin juga setiap pasang mata lelaki dalam ruangan itu—beralih darinya. Dengan setelan jas dan rok selutut berwarna merah, ia seolah menegaskan bahwa kehadirannya di ruangan itu tak tertandingi. Bidadari Merah itu menyapa setiap orang di dalam ruangan. Tutur katanya begitu terjaga, terdengar lembut di telinga saya seperti dongeng pengantar tidur. Dua orang kamerad tua pun tersenyum ramah pada Sang Bidadari Merah. Biar mampus ideologi kalian, ditebang rebah oleh birahi sendiri, umpat saya dalam hati. “Baik, hadirin sekalian, mari kita mulai bicarakan persoalan ini,” ujar Sang Dewi.

Sepasang kamerad tua, yang tadi saya dengar bicara pada satu sama lain dengan semangat berapi-api, tiba-tiba tampil ramah dan murah senyum. Perjuangan  hampir saja berakhir jadi basa-basi semata, seandainya saja perempuan yang terus memakukan pandangannya pada layar 14 inchi tak unjuk bicara.

 Perempuan itu, sepanjang perdebatan terus memeriksa layar di hadapannya sembari mencatat dan mencatat, dan ketika tiba gilirannya untuk bicara, catatannya memborbardir sepasang pejabat lembaga tertuntut dengan kritik-kritik yang tajam. Sepasang kamerad tua tersenyum dan mencoba memperhalus peluru anak didiknya dengan basa-basi comberan mereka. Jangan sampai Baginda Ratu terluka oleh karena kelancangan mulut anak didik kita. Demikian isyarat yang saya tangkap dari ekspresi wajah sepasang kamerad tua. Baginda Ratu memasang senyum sekuat daya upaya agar tak luluh lantak kharismanya di hadapan hadirin sekalian.  Anak sial, pikirnya dalam hati, kenapa tak pulang saja dan menetek pada Ibumu?! Biar aku urus bandot-bandot tua yang besar mulut ini!

Seandainya saja, ya, seandainya saja, kita bisa tak acuh pada feodalisme yang telah mengakar kuat, barang kali Bidadari Merah itu sudah mati kaku di ruang rapat. Setajam apapun peluru yang terlontar dari mulut anak didik perempuan para kamerad tua, Sang Guru telah melumatnya terlebih dahulu sampai halus, untuk kemudian menyuapi Sang Ratu, agar ia tak tersedak dan meninggal tiba-tiba di meja rapat. Agar para kamerad tua itu dapat terus berurusan dengan bidadari mereka, seperti juga kata salah seorang dari kamerad tua itu,”Semoga dengan ini kerjasama kita bisa berlangsung dengan lebih baik.”  Untuk siapa? Untuk rakyat, Saudara-saudara! Pada akhirnya, perjuangan berakhir dengan toleransi. Siapa yang menolerir? Tentu saja para pejuang kemaslahatan orang banyak, di bawah kendali sepasang kamerad tua yang tak bisa mengendalikan geliat penisnya sendiri. “Tenang, Yang Mulia Ratu, akan sahaya sampaikan kebijakan Yang Mulia ke hadapan rakyat sekalian.”

Ketika rapat berakhir, perempuan berbahaya, anak didik para kamerad tua itu, tersenyum pada saya. Inilah medan perjuangan kami, Bung; sebuah kuburan besar tempat di mana abjad-abjad dalam slogan disemayamkan, dikubur dalam-dalam, dan berakhir sebagai monumen yang prematur. Saya tahu, Nona, saya tahu. Itulah sebab mengapa saya tetap berdiri di lingkar luar.

Di luar sana, para kamerad tua masih bisa kembali memimpin dengan gagah sekumpulan makhluk dungu yang menggaungkan slogan-slogan, orok-orok yang siap disembelih di hadapan meja persembahan Sang Ratu.

-B-

2014

Sebuah Dongeng Perampas Jam Tidur: Ketika Inkuisitor Agung Mendakwa Nabinya

eli.. eli… lama sabachthani ?—Mat 27:46

Pada catatan ini saya sekadar menerjemahkan kembali dongeng Ivan Karamazov pada adiknya, Alyosha. Sebelumnya, saya harap Anda maklum bahwa sebuah terjemahan adalah juga sebuah tafsiran. Maka catatan ini berisi tafsiran saya perihal dongeng Ivan Karamazov, seorang jurnalis karangan Fyodor Dostoyevsky dalam karya terakhirnya, The Brothers Karamazov. Menurut Novelis, Manuel Komroff, karya ini mewakili pemikiran Dostoyevsky tentang cinta, tuhan, dan manusia. Karamazov bersaudara adalah representasi dari manusia. Salah satu tokohnya, Ivan Karamazov, putra kedua Fyodor Karamazov, mewakili sisi intelektualitas manusia. Saya tak akan membahas tentang tiga saudaranya yang lain karena otak saya yang tolol ini sudah cukup kembang kempis, hanya untuk memahami dongeng dari tokoh yang satu ini—ingat! Dongengnya saja, bukan pendongengnya. Baiknya saya langsung sampaikan saja dongeng Ivan pada adiknya, Alyosha, yang ingin menjadi seorang biarawan.

Ivan mengambil latar belakang dongengnya di Sevilla, Spanyol, pada abad keenam belas. Sevilla pada abad keenam belas adalah masa di mana inkuisisi gereja Katolik berkuasa. Inilah masa di mana gereja bisa membakar setiap dusun beserta penduduknya yang dituduh telah melakukan bid’ah. Pada dongengnya ini Ivan mengundang Yesus untuk datang berpakansi. Hanya untuk berpakansi! Dengan demikian ia datang sebagai turis, bukan sebagai hakim terakhir di hari pembalasan seperti yang ia sempat janjikan dalam injil. Di dalam injil dituliskan, berjaga-jagalah, aku akan segera datang kembali, dan ia sampaikan pula bahwa tak seorangpun bakal mengenalinya kelak pada kedatangannya yang kedua kali. Tapi sekali lagi ini adalah dongeng Ivan, dan dalam dongeng ini setiap orang di Sevilla mengenalinya sebagai Yesus, Sang Putra Allah. Maka setiap orang berkumpul mengelilinya, dan ia memberkati mereka dengan senyumnya yang penuh cinta. Ia buka sepasang mata seorang tuna netra yang memohon kesembuhan padanya, juga bangkitkan gadis kecil yang terbaring di peti mati penuh bunga dan siap dimakamkan. Orang-orang semakin banyak mengerubunginya, terheran-heran dan memujanya, beberapa mencium tanah bekas kakinya berpijak dan anak-anak kecil melemparkan bunga sambil bernyanyi, Hosana. Kemudian, Sang Inkuisitor Agung, secara kebetulan melihat kerumunan itu. Ia melihat Yesus di antara kerumunan tersebut dan segera memerintahkan bala tentaranya untuk menangkap sang pembuat kericuhan. Tak seorangpun berani menghadang para tentara. Yesus pun tak melawan ketika mereka menangkapnya, sama halnya dengan yang terjadi di masa lalu, seperti yang tertulis di dalam injil. Tapi di dalam injil Yesus ditangkap sebelum Katolik didirikan. Dan bagi saya hal inilah yang menarik. Bayangkan saja bagaimana jika Habib Rizieq menangkap Muhammad. Inkuisitor Agung memerintahkan bala tentaranya untuk memenjarakan Yesus, nabinya sendiri.

Yesus segera dilemparkan ke dalam sel yang gelap dan berbau busuk. Pada suatu malam Sang Inkuisitor Agung datang ke dalam sel tersebut. Di dalam sel itu ia mendakwa nabinya sendiri. Menurutnya, Inkuisisi adalah ahli waris yang sah dari segala sesuatu yang telah termaktub dalam injil. Yesus tak lagi punya hak untuk menambah, pun mengurangi, apa yang telah disabdakan tuhan di masa lalu, seperti yang tertulis pada ayat terakhir dalam injil, bahwa siapapun tak berhak menambah dan mengurangi apa-apa yang telah tertulis. Dan apa yang telah tertulis telah ditafsirkan, juga dijalankan, oleh inkuisisi selama ratusan tahun. Ia menganggap kedatangan kembali Sang Nabi hanya akan merepotkan kedaulatan Inkuisisi. Dan ia tak ingin itu terjadi.

Saya pikir akan lebih baik jika Sang Inkuisitor Agung dalam kepala saya yang bercerita kepada Anda karena saya bukan seorang narator yang baik. Berikut ini adalah terjemahan bebas dan tafsiran saya perihal dongeng Ivan Karamazov.

***

 “Engkau ini datang seenak udelmu saja. Apa sebenarnya yang diam di dalam tempurung kepalamu ketika Engkau membuat mukjizat di tengah-tengah umat kami? Bukankah Engkau sendiri telah menolak keajaiban? Engkau menolak untuk mengubah batu menjadi roti karena katamu, manusia tak hanya hidup dari roti. Aku tahu mengapa engkau menolak tawaran iblis untuk mengubah batu menjadi roti. Diam! Engkau tak lagi berhak menginterupsi tafsiran gereja kami karena kami adalah ahli waris yang sah dari segala apa yang telah tertulis. Maka aku perintahkan Engkau untuk diam, dan dengarkan tafsiran kami atas kejadian di atas bukit di mana Engkau dicobai oleh iblis dan menolak mengubah batu menjadi roti.

“Engkau begitu mengagung-agungkan kebebasan. Apalah arti ketaatan tanpa kebebasan, katamu. O, begitu gagah kata-katamu. Tapi coba lihat! Engkau telah saksikan sendiri apa yang telah terjadi pada manusia-manusia bebas itu. Mereka tak lebih dari bocah-bocah dungu dan sama sekali tidak dewasa, lemah dan susah diatur. Dan oleh karena itu mereka mendambakan sosok pujaan untuk melindungi dan mengatur diri mereka dari kedunguan mereka sendiri, juga dari kedunguan satu sama lain. Ya, mereka mendambakan tokoh yang kelak mereka namai, Tuhan. Tapi tokoh seperti itu harus mewakili semua golongan. Mereka butuh kekuasaan mutlak. Mereka butuh kekuatan maha dahsyat karena mereka begitu lemah. Dan ketika tokoh tersebut tak berhasil mereka temukan maka mereka pun mulai menciptakan tuhan sendiri-sendiri. Kemudian mereka mulai menghunuskan pedang kepada satu sama lain dan saling berteriak,’ikut dan sembahlah tuhan kami atau kami akan menebang rebah kalian bersama dengan tuhan-tuhan kalian!’ Engkau tahu, itu harus mereka lakukan untuk dapat menentukan tuhan siapa yang paling kuat. Lihat, lihat apa yang Engkau lakukan terhadap mereka! Tidakkah Engkau mengerti bahwa kebebasan adalah beban bagi makhluk-makhluk yang dungu itu? Seandainya saja Engkau sudi mengubah batu menjadi roti, mereka akan jadi milikmu sendiri. Mereka tak perlu menebas kepala satu sama lain karena telah menemukan tuhan, tuan mereka yang telah disepakati bersama, tuan yang memberi roti, tuan yang berdaulat. Mereka akan lebih berbahagia menjadi budakmu karena Engkau mampu mengubah batu menjadi roti. Benar, mereka tak lebih dari budak. Benar, mereka hanya membutuhkan roti. Di sisi lain kami memahami keputusanmu. Kami mengerti betapa hambar kehidupan ketika roti telah berlimpah. Kami tahu belaka manusia tak hanya membutuhkan roti untuk hidup. Mereka juga membutuhkan sesuatu untuk mereka perjuangkan agar kehidupan layak dijalani. Tapi kemudian apa? Apa yang Engkau berikan ketika Engkau tak memilih untuk memberikan roti kepada mereka? Engkau berikan pada mereka kebebasan untuk mengetahui sendiri yang baik dan yang buruk. Yang baik akan mengantarkan mereka kepadamu untuk mendapatkan roti di surga, hak mereka yang Engkau janjikan. Dan yang buruk? Oh, betapa mereka ketakutan akan apa yang bakal mereka dapatkan nanti ketika mereka salah memahami yang buruk sebagai yang baik. Seandainya Engkau mengerti betapa menyedihkannya karunia itu, Rabbi. Mereka tak mendapatkan roti dan mendapatkan kebebasan sebagai gantinya. Tahukah, Rabbi? Engkau telah menambah beban hidup mereka. Mereka kebingungan mencari tangan kekuasaan lain yang dapat menentukan yang baik dan yang buruk agar mereka tak menanggung sendiri kesalahan mereka nanti. Dan dengan seenaknya saja kalian, Engkau dan Bapamu, berkata, hanya orang-orang yang beriman kuat yang akan diselamatkan pada hari pembalasan nanti. Lalu bagaimana dengan mereka yang lemah? Engkau pun tahu, mereka lebih banyak jumlahnya dari mereka yang beriman karena pada dasarnya mereka semua adalah makhluk yang lemah, mereka tak akan dapat memahami misterimu. Ya, Engkau naik ke surga meninggalkan misteri di atas bumi. Yang baik dan yang buruk harus mereka putuskan sendiri. Ah! Betapa egoisnya kalian ini!

“Pada tawaran kedua di atas bukit, iblis menawarkanmu untuk menjatuhkan diri dan membuktikan bahwa Engkau adalah dia. Ini pun Engkau tolak. Kami mengerti kita tak boleh mencobai tuhan. Kami paham, keyakinan harus tumbuh dari ketulusan dan bukan dari keajaiban. Tapi apakah mereka, makhluk-makhluk lemah itu dapat mengerti? Baik, bisa saja mereka menolak keajaiban tuhan. Tapi dengan menolak keajaibannya itu berarti mereka juga menolak tuhan. Karena sesungguhnya tak ada tuhan lain yang lebih mereka dambakan dari tuhan yang penuh dengan keajaiban. Diam-diam mereka akan mencari keajaiban lain lewat sihir dan jampi-jampi. Tahukah Engkau mereka membutuhkannya? Mereka membutuhkan keajaiban-keajaiban itu karena mereka adalah makhluk-makhluk yang lemah dan dungu. Apa yang telah Engkau coba lakukan untuk menyelamatkan mereka yang tak terselamatkan oleh iman yang tak lain adalah sebuah misteri? Tak ada! Sama sekali tak ada! Pekerjaan itu harus kami lakukan! Kami, sebagai ahli waris yang sah dari apa yang telah tertulis, yang mengerjakan pekerjaan itu! Kami ungkap misterimu dengan cara kami sendiri untuk membantu seluruh umat manusia memahaminya. Engkau terlalu pemilih. Yang beriman kuat yang akan diselamatkan, dan Engkau berkata bahwa Engkau mencintai seluruh umatmu? Puh, kali ini aku tak mampu memahamimu!

“Kenapa sekarang Engkau datang, Rabbi? Kami tak ingin mengabdi padamu. Betapa lama Engkau dan Bapamu ongkang-ongkang kaki di atas sana. Telah ratusan tahun kami mengabdi pada dia yang kami tafsirkan sendiri berdasarkan dari apa yang telah tertulis. Dan jangan sekali-sekali menambah dan mengurangi segala sesuatu yang telah termaktub di masa lalu. Karena kami adalah ahli waris yang sah dari segala sesuatu yang telah termaktub di masa lalu. Engkau tak punya hak lagi!

“800 tahun lalu telah kami perbaiki kesalahanmu pada tawaran ketiga di atas bukit. Engkau telah menolak untuk menjadikan seluruh bumi sebagai kerajaanmu. Dengan angkuhnya Engkau berkata, kerajaanku bukan kerajaan yang berasal dari atas bumi. Jika bumi manusia ini bukan kerajaanmu, lalu kenapa Engkau harus beraksi sok pahlawan dengan menjadi juru selamat kami dan mati di kayu salib? Kenapa Engkau harus repot-repot mencampuri urusan kerajaan yang bukan milikmu? Diam! Engkau tak perlu menjawabnya. Semua yang terjadi di masa lalu telah tertulis di dalam injil dan sekarang adalah giliranku untuk bicara. 800 tahun lalu lahirlah ia yang kami sebut, Caesar, Sang Penakluk. Di bawah pedangnya, kami yang terserak di segala penjuru bumi bersatu dan membebaskan diri dari beban yang dulu Engkau tinggalkan; kebebasan dan pengetahuan antara yang baik dan yang buruk. Kami tak menolak untuk menjadikan seluruh bumi menjadi satu kerajaan. Kerajaan kami, kerajaan manusia. Engkau tahu, mereka mendambakan persatuan, mereka ingin kesatuan di bawah kekuasaan yang mutlak. Mereka mendambakan untuk hidup dalam kesatuan karena menyadari kelemahan dari diri mereka sendiri. Dengan persatuan mereka merasa menjadi lebih tangguh. Mereka tak akan keberatan untuk menyerahkan kebebasan mereka di bawah kaki Caesar. Karena sesungguhnya kebebasan itu sendiri merupakan sebuah tanggung jawab besar yang tak dapat mereka tanggungkan sendiri. Engkau terlalu percaya pada mereka, Rabbi. Engkau ini Putra Allah, jangan anggap mereka bakal mampu memiliki keimanan yang sama seperti yang Engkau miliki pada Bapamu. Mereka hanya bocah-bocah yang gemar memberontak karena terlalu lama tersesat dalam kebingungan mereka sendiri dan mereka-reka misterimu.

“Kini aku berkata kepadamu, di bawah pedang Caesarlah pengabdian kami, aku dan gereja, saat ini. Kami telah tanggungkan misterimu begitu lama dan melihat pedang itu sebagai titik terang. Kami begitu mencintai seluruh umat manusia dan tak ingin terus melihat mereka menderita dalam kutukan kebebasan yang Engkau berikan. Biar kami tanggungkan penderitaan mereka dengan menjaga misterimu. Mereka akan sangat berbahagia, Rabbi, karena kini mereka tak perlu tentukan sendiri kebenaran dan kesalahan mereka. Kami yang tentukan! Oh, tentu saja kami izinkan mereka untuk mencicipi dosa dengan mengatakan bahwa setiap dosa dapat ditebus dengan pertobatan. Dan kamilah yang akan menanggungkan dosa mereka di hadapan tuhan, dan mereka akan percaya dan mencintai kami karena kami adalah juru selamat mereka. Kami adalah juru selamat yang mereka kenal sendiri, yang menjawab setiap pertanyaan yang tak pernah Engkau jawab.

“Telah tertulis, pada hari pembalasan nanti Engkau akan datang bersama bala tentaramu, juga bersama umat pilihanmu yang bertahan dengan iman mereka. Dan kami akan katakan pada gerombolanmu itu, ‘kalian menyelamatkan diri kalian sendiri, sementara kami, yang tak terpilih, yang lemah ini, bersatu dan menyelamatkan semuanya karena kami mencintai seluruh umat manusia sebagai saudara tanpa memilih’. Telah tertulis, dari dalam bumi akan mucul seekor naga dengan seorang pelacur yang duduk di atas kepalanya. Ia akan diadili ramai-ramai oleh mereka yang terpilih, mereka yang Engkau selamatkan karena imannya. Dan aku akan berdiri menantang kalian, ‘adili kami jika Engkau berani!’. Dan kalian tak akan bisa mengadiliku, karena aku dan gereja telah jalankan apa yang telah tertulis. Ingat! Kami adalah ahli waris yang sah dari segala yang telah termaktub di dalam injil. Dan kami memilih untuk berdiri di antara mereka yang tak terpilih, mereka yang lemah, mereka yang lebih membutuhkan janji keselamatan.

“Engkau tak seharusnya datang pada saat ini, Rabbi. Engkau akan pergi lagi dan mereka akan kembali menderita. Maafkan aku karena harus menjatuhkan hukuman padamu. Maafkan kami karena esok hari kami harus membakarmu di hadapan mereka. Juga setiap orang yang telah mencium kakimu bakal kami bakar bersamamu.”

***

Kurang lebih demikianlah dakwaan Sang Inkuisitor Agung pada tahanannya, Yesus, Nabinya sendiri. Si tahanan sendiri mendengarkan dengan saksama dakwaan tersebut dengan pandangan ramah. Ketika Sang Inkuisitor Agung berhenti bicara ia tak segera membuka mulut. Keheningan menyeruak dalam ruangan itu dan tiba-tiba Sang Inkuisitor Agung merindukan kata-kata Rabbinya. Kemudian Yesus beranjak dari tempatnya, menghampiri si pendakwa dan mencium keningnya. Itulah jawaban Sang Rabbi. Keduanya kembali diam. Seluruh tubuh Sang Inkuisitor bergetar. Kemudian ia berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Pergilah dan jangan pernah datang kembali..jangan pernah,” ujarnya. Tahanan itu pun pergi menyongsong kegelapan lorong penjara.

Ivan katakan pada Alyosha bahwa Inkuisitor Agung, meskipun tak jadi membakar Yesus dan melepaskannya dari ruang tahanan, tetap berpegang teguh pada gagasannya. “Apakah Engkau mengikuti imannya, apakah Engkau adalah dia, Sang Inkuisitor Agung?”, Tanya Alyosha pada Ivan dengan wajah pucat.

-B-

2014

“In the future, everyone will be world-famous in 15 minutes,” Andy Warhol.

Seniman kaleng sup itu yakin dengan kata-katanya. Alih-alih menggunakan ‘would’ untuk sesuatu yang belum terjadi, ia menggunakan ‘will’.  Dan ia benar. Kini Anda bisa terkenal, tak hanya dalam waktu 15 menit, bahkan kurang dari itu.

Selamat datang di era di mana anda bisa tampil dan diperhatikan dunia tanpa harus berpayah-payah dahulu. Era ini tak hanya memberi tempat pada yang pintar melainkan juga pada yang paling tolol. Tak hanya pada kalangan kelas tinggi, yang foto-foto pestanya sering Anda jumpai di halaman belakang majalah gaya hidup masyarakat Kota, melainkan juga pada mereka yang ndeso, anak tetangga Kakek Anda di desa, barangkali.

Jurnalis Time Magazine, Joel Stein, menyebut generasi yang lebih muda darinya sebagai, The Me Me Me Generation. “Call those younger than me lazy, entitled, selfish and shallow,” katanya. The Me Me Me Generation merujuk pada mereka yang gemar mengaktualisasikan dirinya lewat jejaring media sosial. Tiba-tiba generasi muda rajin berlibur ke luar rumah, juga anak-anak kota menggerudug kampung dan pedesaan terpencil, hanya untuk mengunggah liburan mereka lewat Instagram. Blogger, Armand Dhani, bilang, tak ada yang tak bisa dikomentari di bawah kolong langit. Twitter menyediakan lalu-lintas bebas hambatan untuk itu. Jika Anda ingin berbicara panjang lebar, lebih dari 140 karakter seperti yang disediakan oleh Twitter, sekaligus ingin menyimpan album foto, Facebook bersedia mengakomodir. Anda merasa suara Anda layak dengar? Unggah saja di Souncloud. Oh, ternyata Anda juga ingin ditonton? Kalau begitu unggah di Youtube. Dengan jejaring media sosial Anda bisa menjadi mikroselebriti tanpa harus bikin reality show seperti Kim Kardashian. Dan itu bisa Anda raih dalam waktu kurang dari sama dengan 15 menit. Tapi apakah dengan demikian generasi pengguna media sosial adalah orang-orang yang malas, egois, dan dangkal, seperti kata Joel Stein? Tentu saja tak sepenuhnya demikian.

Media sosial, sama halnya dengan panci, pisau dapur, ember atau narkoba, hanya akan menimbulkan ekses jika berada di tangan yang salah. Seharusnya Tuan Stein tak perlu khawatir atau kesal karena generasi di bawahnya bakal jadi generasi narsis dan pemalas. Tak ingatkah ia pada Revolusi Mesir di Lapangan Tahrir yang berawal dari Twitter dan Facebook? Tapi di sisi lain kita pun harus ingat, Twiter juga yang menyebabkan seorang pramugrari Rusia, Ekaterina Solovyeva, dipecat dari maskapai penerbangannya. Di Indonesia, Youtube mendongkrak popularitas Sinta-Jojo dan mengantarkan mereka ke layar kaca. Youtube pun bekerja pada pola yang sebaliknya, ketika diplomasi konyol Vicky Prasetyo di layar kaca diabadikan sehingga bisa diakses kapan saja. Facebook mempopulerkan istilah ‘alay’; mereka yang gemar mengetik  kata-kata dengan variasi huruf dan angka. Soundcloud tentu memberi keuntungan sangat besar bagi mereka yang berpotensi dalam hal musik.

Kadang ada narsisme yang memuakkan dalam media sosial. Tapi tunggu! Jangan-jangan setiap manusia pada dasarnya memang memiliki jiwa narsis. Media sosial hanya mengakomodir hasrat terpendam itu. Dan betapa mulianya media sosial, disertai sifat egaliternya, menyediakan ruang bagi siapa pun.  Apakah media sosial membuat generasi muda jadi pemalas? Saya rasa tidak. Instagram mampu menyeret banyak anak muda ke luar mal, dan menjelajahi negri mereka, bahkan negri orang, agar mereka memiliki koleksi foto yang otentik. Banyak pula aktivis, dari berbagai bidang, menyosialisasikan gerakan mereka lewat Facebook dan Twitter. Media sosial membantu mereka merekrut tenaga untuk memperjuangkan apa pun. Dangkal? Oh, itu relatif. Pramoedya bilang, setiap Pribumi yang terpelajar harus membikin sebangsanya, yang belum terpelajar, jadi terpelajar. Jika Anda memandang sesama Anda, alay, itu tanda bahwa Anda peduli. Selanjutnya terserah Anda, apakah Anda ingin membuat alay tetap alay, atau tidak.

Litografi M.C. Escher berjudul, Relativity, agaknya menggambarkan dengan jelas dunia dalam media sosial. Semua tampak begitu bias, kadang tak sesuai dengan nalar Anda, tapi bukan berarti itu tak nyata. Barangkali Joel Stein hanya terlalu memaksakan naalarnya sendiri.

Pada akhirnya media sosial memang berhasil melahirkan mikroselebriti. Bahkan dengan tanpa pengakuan khalayak pun kita dapat merasakan dunia itu, diperhatikan dan menjadi selebriti. Semesta adalah panggung kita.    

-B- 2014

Karena Kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari—Anak Semua Bangsa, Pramoedya Ananta Toer, 1975.

17 Desember, tanggal lahir Soe Hok Gie. Aku tak terlalu tahu soal sosok satu ini. Literatur padaku tentang ia adalah sebuah tesis sejarahnya tentang pemberontakan PKI di Madiun dan catatan hariannya. Judul catatan hariannya sangat gagah, Catatan Seorang Demonstran. Di masa di mana pemberontakan bukan/jarang dilahirkan dari sebuah kebutuhan, melainkan dari sekadar keinginan—seperti juga keinginan memiliki/membeli baju dan sepatu model/merk terbaru—judul itu tak ayal menjadi magnet tersendiri. Seorang demonstran adalah seorang pemberontak adalah seorang idola.

Kemudian aku tahu, ia adalah juga seorang kolumnis. Dan untuk kolumnis sebrilian Gie, cukup mengherankan sebenarnya, kenapa kolom-kolom yang pernah ia tulis justru jarang diterbitkan ulang, untuk kemudian dibaca oleh generasi berikutnya.

Sebagai sebuah jurnal pribadi, Catatan Harian Seorang Demonstran sendiri sebenarnya tidak terlalu luar biasa, setidaknya bagiku secara pribadi. Penerbit yang sama menerbitkan catatan harian lain yang menurutku jauh lebih menarik; catatan harian Ahmad Wahib. Sayangnya catatan harian Ahmad Wahib diberi judul terlalu “kanan”; Pergolakan Pemikiran Islam di Indonesia. Ini bukan masa di mana para penggiat Islam berhasil menyumbangkan citra yang baik di mata publik. Apalagi bagi generasi muda, yang menjadikan pemberontakan sebagai candu, dan bukannya sebagai kebutuhan yang mendesak, islam bukan merupakan sebuah jalan pemberontakan yang populer.  

Di sisi lain, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, tesis sejarahnya, sangat menarik. Pisau bedah Gie berhasil membedah konflik internal PKI dengan kronologis yang cukup enak untuk diikuti. Dengan pisau bedah Gie, sejarah ilmiah tampil bak sebuah film atau novel.

Bicara soal catatan harian, di belahan bumi lain juga lahir sebuah catatan harian yang kemudian menjadi jurnal paling terkenal di dunia. Jurnal ini tidak lahir dari seorang pemimpin pergerakan pemuda, yang perjuangannya kemudian berhasil merubuhkan satu rezim, seperti Gie. Ia lahir dari tangan gadis biasa di Belanda, bernama, Annelies Marie Frank.

Barangkali Anne akan mati terlupakan jika ia tidak menulis. Barangkali juga ia menulis bukan untuk dikenang. Usianya masih sangat muda. Pikiran-pikiran polosnya adalah cahaya kecil dalam suatu masa di mana dunia sedang ditelan kegelapan; masa pengganyangan Bangsa Yahudi di Eropa oleh NAZI. Lewat Anne Frank, aku tahu, Engkau bukan siapa-siapa, dan bakal tetap tinggal jadi bukan siapa-siapa jika engkau tak menulis.

Hari ini, 17 Desember, dan itu tanggal lahir Soe Hok Gie. Tidak setiap orang bisa menjadi Gie. Tapi setiap orang, dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia, layak dikenang seperti Anne Frank.

 —B—

2013

Emancipation should make it possible for woman to be human in the truest sense—The Tragedy of Woman Emancipation, Emma Goldman


Setelah emansipasi, kemudian apa? Kesepian, kata Ny. Goldman. Berkembang-biaknya para buaya, kata Pram. Terang itu tak jua datang, Ni….


Setelah hak telah sama rata, adakah perempuan terbebas dari kontrak sosialnya sebagai, err..perempuan? Pandangan tradisional terhadap perempuan tak bisa ditebang rebah. Wanita karier boleh saja mondar-mandir di malam hari. Tapi mereka tetap dalam keadaan terancam. Tentu kita masih ingat kasus pemerkosaan di metromini yang sempat marak tahun lalu. Baru-baru ini, hal serupa terjadi di lingkungan intelektual.


Terang itu tak jua datang, Ni. Perempuan memang tak lagi dipenjara dalam empat dinding yang dulu mengurungmu. Kini, mereka dapat terbang sebebas merpati. Tapi, mereka tetap menjadi obyek para lelaki. Mereka membaca dan menulis lebih banyak darimu, Ni. Mereka didengar. Tapi itu tak sekonyong-konyong membuat mereka bebas dalam cengkeraman lelaki.


Terang itu tak jua datang, Ni. Kini, semakin sedikit yang dikawinkan paksa. Beberapa malah tak bisa kawin, karena terlalu tinggi posisi sosialnya. Dunia ini masih milik laki-laki, Ni. Dan laki-laki Pribumi tak sudi punya bini dengan kedudukan sosial yang lebih tinggi. Dulu, Engkau hanya ingin kaummu dipersamakan dengan laki-laki, sekarang sebagian dari mereka ingin mendominasi.


Seandainya Engkau kenal dengan Nyonya Goldman. Ia telah melihat tragedi dalam emansipasi. Dengan kecerdasan yang jauh melebihi perempuan pada zamanmu, mereka tetap merasa sepi, Ni. Sebagian dari mereka berubah menjadi mesin-mesin peradaban, dengan obsesi untuk menjadi subyek sebagai bahan bakarnya.


Aku mengenal seorang perempuan karier berkedudukan tinggi. Usia 40 tahun dan masih melajang. Ia bilang, “tak perlu menunda sebuah pernikahan. Karier pun dapat dibangun dalam kehidupan berumah tangga.” Ia merasakan, betapa sepi hidup seorang diri. Juga ia, seorang penulis, yang dulu berkomitmen untuk tetap melajang pun pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Ia bahkan terbitkan tiga jilid buku untuk membela “perselingkuhan ideologinya.”


Terang itu tak jua datang, Ni. Apa harus kita kenakan kerudung merah pada kaummu, agar mereka terbebas dari serigala pemangsa? Serigala, dalam rupa lelaki, pun dalam perasaan sepi.

2013


-B-

Jika kau lupa apa jenis kelaminmu, berjalan-jalanlah keliling kota, atau naiklah bis kota, dan jika tubuhmu seperti bukan milikmu, tapi sebuah properti publik, berarti kau perempuan—Cala Ibi, Nukila Amal


Dan, satu-satunya cara untuk merebut kembali tubuh mereka, kaum perempuan itu, di ruang publik (barangkali) adalah, telanjang!


Marina Abramovich, Miru Kim, Kira O’ Reilly, He Chengyao, Sarah Trouche, Nagisa Shirai, dan entah berapa lagi seniman feminis, yang hampir selalu tampil telanjang dalam setiap penampilan mereka.


Pada mulanya, aksi tersebut memang bisa dibilang jenius. Mereka mengeksekusi mati fantasi lawan jenisnya. Fantasi laki-laki selesai ketika lawan jenis mereka telah bugil bulat-bulat. Tapi, semakin sering mereka tampil telanjang, semakin aku melihat aksi tersebut luruh nilai filosofisnya, dan berubah menjadi semacam aksi eksibisionisme belaka. Konsep tersebut seakan-akan telah menjadi konsep tunggal kaum feminis dan berubah jadi memuakkan. Konsepnya memuakkan, mediumnya (baca: tubuhnya) barang tentu, tidak.


Soalnya adalah, baik Ny. Abramovich atau Nona O’ Reilly, pun Miru Kim, juga Nagisa Shirai, mereka semua memiliki proporsi tubuh yang sesuai dengan mata, juga pikiran, laki-laki. Soalnya tentu akan berbeda, jika para penampil memiliki proporsi tubuh yang ditolak oleh imajinasi kaum Adam.


Dalam sebuah acara TV, bernama, The Work of Art, pada musim pertama, terdapat seorang kontestan bernama, Jaclyn Santos. Salah satu karyanya menampilkan serial foto telanjang dirinya. Di ruang pamer, pemandang bebas merespon pemandangan tersebut dengan marker, atau pena, yang telah disediakan di depan karya.


Gagasan serupa kembali ditampilkan oleh seniman asal Bandung, Erika Ernawan, dalam SEA+Trienalle 2013. Tentu akan menarik jika respon-respon tersebut bisa bebas, seperti yang terjadi pada karya Jaclyn, misalnya. Pada karya Jaclyn, beberapa komentar tampak nakal, cenderung mesum, dan itu wajar. Aku bilang wajar, karena Jaclyn memang bermaksud mengundang kenakalan tersebut, tidak hanya dalam karyanya, melainkan juga dari penampilannya sehari-hari—lihat saja payudara silikon pada dadanya itu!


Soal Erika jadi tampak membosankan, selain karena ia mengulang konsep yang hampir sama, para pemandang pun tampak (pura-pura) sopan dan terpelajar, dalam merespon karya tersebut. Ada komentar, pornografi sudah tidak ada. Tidak ada yang tidak ada, Bung! Jika ada kata untuk itu, maka keberadaannya sahih, meski hanya dalam bentuk yang abstrak. Kemudian, pada bagian celana dalam, tepat di daerah genital, tertulis, dimana keajaiban berada. Selain salah EYD, komentar tersebut juga menampilkan betapa munafiknya orang Indonesia. Bermanis-manis di bagian genital? Yang benar saja?! Jangan-jangan dia itu (si perespon) yang menulis serat Centhini.


Memang ada perbedaan di antara potret-diri Jaclyn dan Erika pada karya mereka. Jaclyn sengaja tampil menggoda, dan bergenit-genit di depan kamera. Erika, dengan kecantikan morbidnya, tampak mendekap erat bayinya dengan gestur, pun ekspresi wajah, yang terintimidasi.


Ada respon menarik dari seorang teman. Ia bilang, ia tidak tega menatap karya tersebut. Nah, di sinilah aku kira karya itu berhasil. Ketika tubuh perempuan telanjang tidak hanya melahirkan respon birahi, atau romantisisme pengantar birahi, melainkan juga menghadirkan simpati.


Kebanyakan orang Indonesia malu tapi selalu dikalahkan oleh birahinya sendiri. Romantisisme pengantar birahi hanya pemanis penuh tendensi. Simpati adalah perasaan paling jujur, terkait dengan kesan yang ingin dicapai oleh karya sejenis A Mother and A Son milik Erika Ernawan. Dan, seperti juga seorang teman yang bersimpati pada, entah Erika, entah karyanya, kau tidak akan tahan untuk berlama-lama di depan karya tersebut, apalagi menorehkan komentar manis pada sosok yang sedang terintimidasi pada karya itu.

Sama halnya dengan pementasan tari oleh Nagisa Shirai, berjudul, The Rite of Spring. Di atas panggung, tubuh telanjang penari Jepang tersebut dikepung oleh beberapa penari pendukung, pria dan wanita, dan mencoba meloloskan diri dari kepungan itu. Keberhasilan karya tersebut melahirkan simpati penonton tidak hanya terletak pada bagaimana Nagisa bermain dengan gestur tubuhnya, tapi juga dari bagaimana ia mengeksplorasi ekspresi wajahnya, untuk mengeksploitasi perasaan simpati para penonton. Orkestrasi Stravinsky, sebagai latar, turut membangun suasana tragedi dalam pementasan tersebut.  


Nagisa Shirai, di atas panggung di Prancis pada saat itu, pada mulanya, barangkali memang menghadirkan apa yang diinginkan para penonton (Eropa); tubuh dengan proporsi yang sesuai, dan eksotisme wajah Asia. Hingga kemudian gestur, musik, dan ekspresi wajah Nagisha menggiring perasaan penonton, secara perlahan-lahan, ke dalam lirisme, yang kemudian melahirkan simpati. Dengan demikian, tubuh telanjang perempuan tidak hanya mewakili keperempuanan, melainkan juga kemanusiaan. Manusia, apa pun jenis kelaminnya, ada kalanya memang akan selalu merasa “telanjang”; tak berdaya dan senantiasa berada dalam keadaan terancam.


Jadi, ketika tubuh berubah menjadi properti publik, barangkali bukan karena itu tubuh perempuan, melainkan karena ia mempresentasikan apa yang diinginkan publik. Jika tubuhmu seperti mal, tempat di mana mimpi diperjual-belikan, maka tidak salah jika publik di hadapanmu akan mulai mengimpi, dengan “menggunakanmu” sebagai mediumnya.

Tiba-tiba aku ingat cerpen Pramoedya, Emansipasi Buaya.

—-Bagus Purwoadi, 2013