Aksaraloka

Saya menulis (semoga) dengan Bahasa yang kalian tahu

we who up-end the infant and
force its sight to fix upon
things and shapes, not the
freedom that they occupy,
that openess which lies so deep
within the faces of the animals,
free from death!
We alone face death.

-R. Maria Rilke, Duino’s 8th Elegy

Barto bilang, ia melihat Rashomon dan Kappa bertengger di rak buku anak-anak. Ia sedang berada di Jepang pada saat itu. Murakami bilang, di Jepang, bocah SD sudah baca Akutagawa. Bukan bocah SD-nya yang hebat, tapi Akutagawa memang bisa menulis untuk siapa pun. Ia bisa menulis Jigokuhen yang begitu gelap dan penuh dengan sadisme. Ia juga bisa menulis The Spider’s Threat yang ringan dan penuh nilai-nilai universal. Akutagawa dikenang, sebab ia menulis untuk bangsanya, tak peduli itu orang dewasa atau bocah SD. Tak berlebihan jika kemudian namanya dijadikan nama sebuah penghargaan sastra nasional.  

Ketika saya membaca Kisah Calonarang-nya Pram, saya agak kaget dengan gaya tuturnya. Ia tak meledak-ledak seperti biasanya. Ia bahkan tak menyingkirkan hal-hal magis seperti yang ia lakukan pada Arok Dedes. Di kemudian hari saya tahu, Pram menulis Kisah Calonarang untuk pembaca di segala usia. Tapi apakah Pram bisa masuk SD seperti Akutagawa? Setahu saya, sebelum ketetapan MPR tentang larangan ajaran Marxisme-Leninisme dicabut, Pram tetap dilarang masuk sekolah. Padahal, tak semua karya Pram kental dengan ajaran yang, menurut pengakuannya, tak pernah ia baca itu. Saya enggak pernah baca Marx, kata Pram suatu kali, kalau pemikiran kami sama, mungkin Marx yang baca karya-karya saya.

Sepertinya anak-anak Indonesia memang jauh dari karya sastra bangsanya sendiri. Saya pun baru membaca karya sastra pada saat saya masuk kuliah. Di kampung, boro-boro saya mengenal sastra. Satu-satunya fiksi yang saya baca di sekolah adalah buku-buku sejarah di era Orde Baru. Saya tak kenal S.T. Alisyahbana, saya tak kenal Abdul Muis, saya tak kenal Marah Rusli, saya tak kenal Achdiyat apalagi Pram. Sesungguhnya, saya sangat berterima kasih kepada Orde Baru, sebab membaca buku-buku sejarah terbitannya sama halnya dengan membaca Harry Potter. Untuk ini, saya sangat menyayangkan kenapa film G30S harus dilarang setelah Suharto turun. Bukankah kita masih bisa menontonnya, tentu dengan sudut pandang yang baru? Seharusnya film itu tetap diputar di bulan September, bukan lagi untuk mengenang ‘kepahlawanan’ Suharto dalam memberantas PKI, melainkan untuk mengenang betapa bangsa ini pernah dibohongi selama lebih dari tiga dasawarsa. Anggap saja itu sebagai fiksi, sebagai karya seni yang sangat imajinatif. Malu, pernah dibohongi selama lebih dari tiga puluh tahun?

Dari Akutagawa, saya berpindah ke rak buku lokal. Ada sebuah buku berlabel, Bukan Bacaan Ringan. Saya jadi ingat dengan teman saya yang pernah berkata, Aku suka bacaan berbau-bau filsafat. Kemudian saya berpikir, bukankah filsafat lahir dari fiksi? Kenapa sekarang jadi fiksi yang harus lahir dari filsafat? Nietszche sendiri bilang, Aku belajar banyak persoalan psikologis manusia dari Dostoyevsky. Saya membacanya di sampul belakang Crime and Punishment. Juga Plato dan Socrates tak bakal lahir tanpa mitos-mitos Yunani. Sekarang, sepertinya orang harus khatam filsafat untuk bisa menulis sebuah karangan, sebab pembaca Indonesia ternyata lebih suka dengan bacaan berat. Dosen pengantar filsafat saya pernah bilang, film Lord of The Ring itu film untuk anak-anak. Saya jadi bingung, kenapa orang yang sudah khatam filsafat justru tak bisa melihat sesuatu yang substansial. Jika melihat tampilannya, peri-peri dan kurcaci memang tokoh untuk anak-anak, tapi LOTR berbicara soal eksistensialisme. Adegan terakhir LOTR, The Return of The King, adalah adegan yang bikin saya sesak nafas. Di Shire, Frodo dan kawan-kawannya tak disambut dengan sorak-sorai seperti ketika mereka berada di Middle Earth. Penduduk Shire tak tahu apa yang telah dilakukan Frodo dan kawan-kawannya untuk kelangsungan hidup mereka. Bagi saya, nonton LOTR sama rasanya dengan membaca Le Peste-nya Albert Camus. Frodo tak berbeda dengan Dr. Rieux. Perbedaannya, J.R.R. Tolkien, juga kemudian Peter Jackson yang membuat versi filmnya, mampu berbicara dengan anak-anak, sementara Camus hanya berbicara pada kaum intelektual elitis. Bukan salah Camus, tentu, yang salah adalah dosen pengantar filsafat saya yang elitis, yang menolak imajinasi, sebab, mungkin, bagi dia imajinasi hanya cocok buat anak-anak. Saya jadi bertanya-tanya, apakah imajinasi dan bahasa anak-anak memang sedemikian rendahnya di mata orang-orang seperti dosen pengantar filsafat saya itu?

Bangsa Indonesia tak punya budaya membaca, kata seseorang. Tapi bagaimana caranya mencari bacaan anak-anak jika sebagian besar penulis lebih memilih menulis untuk orang dewasa, untuk orang-orang ‘pintar’? Seperti Pangeran Kecil dalam karangan St. Exupery,  anak-anak Indonesia terdampar di planet orang dewasa. Mereka kebingungan. Mereka jadi dewasa sebelum waktunya dan jadi bahan olok-olok orang dewasa. Setelah membaca Kisah Calonarang, kekaguman saya terhadap Pram pun semakin bertambah. Bagi saya, Pramoedya penulis besar, bukan hanya karena ia menulis Tetralogi P. Buru, ia penulis besar, sebab ia telah berusaha mengawal kita sejak kita kecil, seperti apa yang dilakukan oleh Akutagawa di Jepang sana.

Bahasa anak-anak bukan serigala bagi si bocah kerudung merah, tapi sepertinya kita lebih memilih untuk menjadikan mereka Putri Aurora, yang sekalinya tertusuk jarum, bakal tertidur untuk waktu yang cukup lama. Bahkan dosen pengantar filsafat saya pun sepertinya belum terbangun dari buaian mimpi intelektual elitisnya. Semoga ada yang bersedia mengecup bibirnya.

-B-

2014

Bagaimana Akutagawa Menghajar Realisme

As a rule, I can only paint what I have seen

Bocah di samping saya mencangkungi layar laptopnya. Ia ketik kata, ember, pada Google, kemudian mulai melihat-lihat gambar ember. Buat apa? tanya saya. Buat model lukisan, Bang, kata dia. Kamu ini enggak pernah lihat ember? tanya saya lagi. Biar mirip, Bang, kata dia. Saya tak tahu harus bilang apa.

Di awal kariernya, Haruki Murakami mengatakan, Ryunosuke Akutagawa sering mendapatkan kritik, sebab ia selalu menggunakan imajinasi, yang kadang-kadang terpental jauh dari realitas, dalam menciptakan karya-karyanya. Barangkali ia kesal. Ia pun menyampaikan kekesalannya pada kaum realis, dan menulis, Jigokuhen (Lukisan Neraka). Cerpen ini berkisah tentang Yoshihide, pelukis yang mendapatkan pesanan lukisan neraka dari seorang Tuan Tanah bernama, Horikawa.

Yoshihide dikenal arogan, sebab ia memang pelukis terbaik pada masanya, dan ia menyadari itu. Ia adalah seorang pelukis realis garis keras. Ia bisa mencangkungi seonggok mayat selama berjam-jam hanya untuk menggambar obyek semirip mungkin dalam lukisan Lima Tingkat Kebangkitan-nya. Desas-desus mengatakan, orang bahkan bisa mencium bau busuk mayat dari obyek dalam lukisan itu kemudian. Juga orang bisa mendengar rintihan jiwa-jiwa para pendosa dalam lukisan tersebut. Ketenaran itulah yang kemudian membuat Horikawa memesan lukisan Jigokuhen kepadanya. Di kemudian hari, Jigokuhen versinya pun dikenal sebagai lukisan neraka paling mengerikan di antara lukisan-lukisan neraka pelukis lainnya. Tak hanya bentuk, tapi latar belakang dari terciptanya lukisan tersebut merupakan neraka tersendiri bagi setiap orang yang menjadi saksi lahirnya Jigokuhen versi Yoshihide.

Neraka itu dituturkan oleh seorang pelayan Horikawa. Ia sendiri menyampaikan apa yang ia dengar dari tuturan murid-murid magang Yoshihide. Tak seorang murid pun tahan melewatkan lebih dari semalam bersama Yoshihide saat ia tengah mengerjakan Jigokuhennya. Seorang murid mengaku mendengar Yoshihide meracau dalam tidurnya, berbicara dengan suara yang terdengar seperti berasal dari bawah air. Seorang murid lain mengaku diikat dengan rantai semalaman. Setiap persendian tubuhnya ditekuk sedemikian rupa oleh si guru, kemudian digantung di langit-langit untuk menjadi model salah satu obyek lukisannya. Murid berikutnya diserang seekor burung hantu yang tadinya jinak di tangan Yoshihide. Saat ia sibuk menghalau serangan si burung hantu, si guru justru sibuk dengan kuasnya, melukis pemandangan hidup dan mati di hadapannya. Kejadian-kejadian mengerikan terjadi di tengah penciptaan Jigokuhen sampai kemudian ia tak menemukan model untuk obyek terakhir lukisannya.

Sementara itu, putri semata wayang Yoshihide menjadi Ladies-in-Waiting Horikawa. Apa itu Ladies-in-Waiting, saya tak terlalu paham. Mungkin posisinya sama dengan si gadis pantai dalam novel Pramoedya. Yoshihide sendiri sesungguhnya sangat mencintai putrinya dan selalu meminta si Tuan Besar untuk mengembalikan si gadis kepadanya. Horikawa tak pernah mengabulkannya dengan dalih, putri Yoshihide lebih terhormat berada di selingkung para bangsawan. Apa kau bermaksud menjadikan putrimu kembali menjadi jelata, Yoshihide? kata si Tuan Besar.

Obyek terakhir Jigokuhen ternyata adalah putrinya sendiri. Yoshihide meminta Horikawa untuk menyediakan sebuah kereta bangsawan, sebab ia ingin melukis kereta bangsawan yang terbakar api neraka. Soalnya adalah, ia minta kereta itu diisi oleh seseorang, untuk menggambarkan siksa api neraka bagi para bangsawan. Horikawa mengabulkannya. Setelah putri Yoshihide menolak cinta Sang Tuan Besar, ia mengikat gadis itu dalam kereta yang kemudian dibakar di hadapan mereka.

Dengan gaya tutur reportase, narator, yang tak lain adalah salah satu pelayan Horikawa tersebut, menyampaikan sosok Yoshihide yang ia dengar dari mulut ke mulut. Cara ini membantu untuk memperkuat karakter Yoshihide yang menyebalkan. Ia dibenci sekaligus ditakuti. Ia jadi bahan gosip. Akutagawa pun memilih pelayan bangsawan yang tak mengerti apa-apa soal lukisan sebagai narator. Itu membuat ia kemudian menggambarkan lukisan Yoshihide dengan sangat rinci, hingga pembaca bisa menggambar neraka di kepala masing-masing dengan begitu jelas. Saya membayangkan seandainya Jigokuhen ditulis oleh Dostoyevsky. Sudah dapat dipastikan bahwa ia akan lebih memilih untuk menjadikan Yoshihide sebagai penutur. Tapi Akutagawa memilih seorang pelayan, agar orang bisa melihat betapa absurdnya pola pikir Yoshihide, sebagai seniman dan wakil kaum terpelajar, dan Horikawa, sebagai bangsawan. Ia memilih cara realisme sosialis, yang memihak kepada kaum jelata, untuk menghakimi realisme, yang justru sering diagung-agungkan oleh kaum sosialis.

Dengan Jigokuhen, Akutagawa seolah berkata pada penganut realis, jangan cuma menyampaikan kemiripan bentuk, Bung, karya seni juga harus menyampaikan perasaan. Di hadapan kobaran api yang melalap putrinya, Yoshihide benar-benar melukis neraka.

-B-

2014

 

 

Hantu ada, kau tahu, karena kita memikirkannya. Begitu pun taman bunga—AS Laksana, Murjangkung, Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu

Selesai membaca karya terbaru Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, saya segera mencari Gabriel Garcia Marquez, atau penulis-penulis latin lainnya, sebab saya penasaran dengan gaya magic realisme mereka. Saya menemukan Marquez di toko buku yang agak perlente, dan terpaksa menguras uang THR saya untuk bisa membawa pulang empat buku sekaligus, dan itu bikin saya jadi tidak bisa mudik. Tiga buku di antaranya sudah saya baca; Of Love and Other Demons, Memories of My Melancholy Whores, dan yang baru selesai saya baca adalah Love in The Time of Cholera. Saya tak menyesal menghabiskan THR saya untuk membeli karya penulis yang dekat dengan Fidel Castro tersebut. Sebab, setelah bergelut dengan karya-karya gelap Dostoyevsky, Marquez melengkapi kesegaran yang sebelumnya dibawa Eka, dan membantu saya untuk tetap waras dalam memandang hidup dan manusia. Terlalu sering baca Dostoyevsky, orang bisa jadi gila seperti Nietszche.

Dengan magic realismenya, Eka dan Marquez mengajak pembacanya untuk menghadapi dunia dan manusia dengan santai dan waras, dengan tokoh-tokoh mereka yang justru tidak waras. Atau setidaknya, mempunyai logika yang berbeda dengan logika manusia pada umumnya. Sejak Cantik Itu Luka, saya selalu menunggu karya-karya Eka. Seperti Dendam adalah karya yang membuat saya tak berlama-lama berada di toko buku seperti biasanya. Saat menemukannya di rak buku, saya langsung membelinya dan segera pulang ke kost-an. Karya tersebut sudah menohok sejak halaman pertama, dan saya selesai membaca-habis buku itu dua kali dalam waktu seminggu. Saat Seperti Dendam selesai saya baca, saya bingung mau baca buku apa lagi. Teman saya, seorang sarjana Sastra Indonesia UI, bilang, gaya tutur Eka adalah gaya magic realisme khas sastra Latin. Saya jadi ingat, Eka sering menyebut Marquez dalam jurnal online-nya. Maka, saya pun mulai mencari Marquez. Saya pernah menemukan terjemahan bahasa Indonesia Love in The Time of Cholera terbitan Selasar, tapi saya tak suka terbitan Selasar. Terus terang saja, terjemahannya ngaco. Buku itu sudah lama saya lihat bertengger di rak toko buku bekas langganan saya dan saya tak pernah tertarik untuk membelinya. Saya pernah baca karya Sartre terbitan Selasar. Karya itu tak pernah selesai saya baca, dan saya bahkan tak tahu ada di mana buku itu sekarang. Mengingat bahwa magic realisme memiliki kekuatan pada gaya tuturnya, tentu saya butuh terjemahan yang bagus agar kenikmatannya tetap orisinil. Jadi, saya pun membeli terbitan Penguin, yang diterjemahkan Edith Grossman dari bahasa aslinya, bahasa Spanyol, ke dalam bahasa Inggris. Saya memilih membacanya bukan hanya karena Penguin adalah sebuah penerbit besar, tapi Edith Grossman sendiri pun sudah terkenal konsisten dalam menerjemahkan karya-karya latin, terutama karya Marquez. Dari Eka, kemudian Marquez, saya mulai tertarik dengan magic realisme.

Apa itu magic realisme? Saya masih newbie dalam hal ini. Dari Eka dan Marquez saya mengambil kesimpulan, magic realisme berusaha untuk menyeret hal-hal magis, takhayul, misalnya, ke dalam realitas sosial, politik, dan sejarah pascakolonial. Itulah yang kemudian membuat magic realisme bisa tumbuh dan berkembang di negri-negri pascakolonial, di mana takhayul dan pengetahuan modern hidup berdampingan. Di Kolombia, misalnya, ada Marquez, di Chili ada Isabel Allende, di India ada Salman Rushdie, dan saya heran, kenapa di Indonesia hanya ada Eka Kurniawan dan AS Laksana? Menurut saya, seharusnya magic realisme bisa tumbuh subur di negri pascakolonial seperti di Indonesia. Sebab, kita punya begitu banyak produk takhayul yang bisa diolah ke dalam karya sastra. Sayang, sebagian besar penulis lebih memilih menyampaikan takhayul utuh-utuh, seolah-olah mereka sedang bercerita kepada kakek-moyang kita yang belum mengenal kolonialisme. Sebagian yang lain justru membuangnya jauh-jauh, seolah kita tak pernah punya hubungan apa-apa dengan mereka, takhayul-takhayul tersebut.

Pada kenyataannya, sebagai bangsa pascakolonial yang telah mengenal ilmu pengetahuan modern, kita tetap memendam perasaan cinta yang dungu terhadap hantu-hantu. Menurut saya, itu disebabkan karena kita tak pernah membawa mereka ke dalam kehidupan sehari-hari. Mitos-mitos diperlakukan sama dengan bagaimana kakek moyang kita memperlakukan mereka. Coba bayangkan, seandainya kita menempatkan mitos-mitos ke dalam realitas sosial politik sehari-hari. Akan ada bocah Gondoruwo yang terpaksa harus pergi ke klinik ortopedi, sebab ia bertubuh kuntet dan terus dibully sebangsanya. Atau, tiba-tiba Nyi Roro Kidul mencalonkan diri sebagai anggota dewan, sebab ia tak tahan lautnya terus dieksploitasi oleh bangsa asing. Atau, ternyata Malin Kundang bukan anak durhaka, melainkan seorang sarjana yang ingin membangun sebuah desa, dan kemudian bertemu dengan perempuan desa sinting yang mengaku sebagai ibunya. Ia menolak, dan si perempuan sinting membunuhnya, kemudian menanamnya dalam adukan semen. Atau, hantu-hantu komunis bangkit dari kubur dan menyertai perjuangan aktivis ’98 untuk menggulingkan kekuasaan Orde Baru. Bukankah dengan demikian sastra Indonesia bakal jadi lebih menarik? Atau tidak? Ya, itu sekadar pendapat saya.

Jika Tetralogi P. Buru penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang identitas bangsa indonesia, Eka Kurniawan dan AS Laksana telah menjawabnya. Maaf Pram, kami masih percaya pada hantu-hantu, kata mereka. Hantu-hantu ada, tapi itu bukan berarti mereka masih bisa mengutuk kami dengan jampi-jampi mereka yang sudah kadaluwarsa, sebab kini mereka telah dikutuk oleh realitas modern.

-B-

2014

Menjelang pilpres, antusiasme rakyat Indonesia terhadap pemilu meningkat tajam. Tiba-tiba semua laman media sosial penuh dengan komentar-komentar warga, tentang dua pasang kandidat yang tengah berkontestasi dalam perhelatan lima tahunan tersebut. Antusiasme yang tak nampak dalam pemilu legislatif yang lalu itu tentu sangat menggembirakan. Siapa bilang rakyat Indonesia telah jadi warga negara yang apatis dan bersikap apolitis terhadap masa depan kehidupan politik Bangsanya? Bukalah laman media sosial Anda dan silahkan saksikan betapa meriahnya pesta demokrasi kita tahun ini! Sayang, nyaris dari semua komentar, terlebih komentar yang keluar dari anak-anak muda, cenderung negatif dan tak berdasar.

Pilpres kali ini hanya menyediakan dua kandidat untuk kita pilih. Dengan demikian, konsentrasi massa terbagi menjadi dua kutub. Sialnya, kedua kutub ini terbagi bukan karena perbedaan ideologi melainkan oleh rasa benci yang lahir dari cinta buta semata. Saya tak memilih A bukan karena ideologinya tak sesuai dengan saya melainkan karena B adalah Tuhan dan A tak lain adalah Iblis. Dengan cara berpikir sesakral itu, siapa pun yang terpilih, perang sipil bakal menanti di ujung sana. Orang bilang, inilah demokrasi, inilah pluralisme. Ini bukan demokrasi, Bung, ini barbarisme, sebab tiap orang semakin hari semakin siap untuk memenggal batang leher siapa pun yang berbeda pandangan dengannya. Ini mengerikan.

Lebih dari sekadar darah dan kematian, runtuhnya kebhinekaan dan cita-cita demokrasi dari para pendiri Bangsa ini di masa lalu membikin situasi saat ini jadi mengerikan. Pemilu bukan perang. melainkan proses pendewasaan kehidupan berdemokrasi. Lewat pemilu, kita belajar memilih apa yang bagi kita, secara pribadi, sesuai untuk kemajuan Bangsa ini. Sebab di pemilu kita memilih calon pemimpin Bangsa, dan melalui visi misi dan program dari masing-masing kandidat, kita bisa tahu yang mana yang paling sesuai dengan pandangan kita. Tapi lihat, begitu fasihnya mereka bicara soal keburukan kandidat lain, dan di sisi lain tergagap-gagap membicarakan visi misi dan progam kandidatnya masing-masing—atau bahkan, mereka tak tahu visi misi dan program kandidat yang mereka dukung.

Selain pemilu, sebagian dari kita pun menantikan datangnya piala dunia. Semoga semangat fair play dalam sepak bola dapat menular ke dalam kontestasi politik di negri ini. Semoga emosi dapat sedikit teredam dalam hingar-bingar piala dunia. Demi Tan Malaka, demi Pramoedya, dan demi siapa pun yang mencintai Bangsa ini dengan segala kebhinekaannya.

 

Jakarta, 13 Juni 2014

Zen RS bilang, Anda bisa belajar menulis dengan mentranskrip tuturan lisan. Caranya cukup mudah dan murah meriah; rekam pembicaraan seseorang, kemudian tulis! Yang dimaksud dengan, tulis, tentu bukan sekadar memindahkan suara, kata per kata, ke dalam sederetan huruf, sebab logika lisan dan tulisan tak selamanya sesuai. Yang dimaksud, tulis, yaitu benar-benar menulis, yaitu membuat tulisan, bukan tuturan yang hanya bisa didengar tapi tak bisa dibaca.

Hari ini narasumber saya adalah orang yang tuturannya paling susah ditranskrip. Ini bukan penilaian subyektif. Setidaknya, sekitar tiga sampai empat orang teman saya pun menyatakan hal yang sama. Wah, dia! Malas, ah! Ungkapan demikian sering terdengar dari mulut beberapa teman saya ketika harus berhadapan dengan narasumber yang satu ini. (sebaiknya tak saya sebut namanya dalam catatan ini. Yang pasti, ia adalah pejabat publik).

Sebagai pejabat publik, orang seharusnya pandai bicara, sebab kata-katanya, baik dalam bentuk lisan pun tulisan, bakal didengar dan dibaca banyak orang. Tapi kata-kata darinya ini seperti remah nasi yang keluar dari mulut dan hidung ketika kau bersin di tengah mulutmu yang tengah sibuk mengunyah. Kata-katanya berpencaran tak tentu arah dan harus dipunguti terlebih dahulu satu per satu untuk kemudian disusun jadi satu kalimat yang enak dibaca. Laju kalimatnya bak metromini, serong sana sini dan berhenti seenak udelnya sendiri. Mentranskrip tuturannya benar-benar bikin depresi. Siapa sebenarnya yang dungu di antara kami?—tentu saja saya harap dia yang dungu. Tapi kemudian saya ingat apa yang pernah diucapkan Rocky Gerung pada suatu hari, ketika bahasanya yang mewah dikritik oleh seorang wartawan. Adalah tugas pers untuk menyederhanakan bahasa mewah kaum elite intelektual, supaya kami dapat dipahami oleh masyarakat dari segala golongan, dan saya tidak akan meminta maaf untuk bahasa saya yang Anda nilai terlalu tinggi, begitu katanya.

Konteksnya jelas berbeda. Mentranskrip Rocky Gerung jauh lebih menarik, sebab ada tantangan untuk memutakhirkkan bahasa Indonesia dengan berusaha mencari padanan kata untuk tiap istilah ilmiah yang ia gunakan. Ia pun gemar bikin perumpamaan, dan itu membuat percakapan politik tak jadi kaku dan membosankan. Perumpamaan itu pun mempermudah si tukang transkrip menemukan padanan kata untuk istilah-istilah ilmiahnya. Walaupun konteksnya berbeda, tapi tuntutan Rocky untuk pers tersebut bisa dijadikan tanggungjawab, agar pers dapat dengan rendah hati memaklumi narasumber seperti yang saya hadapi hari ini. Saya ingat Tirto Adisuryo, Si Bapak Pers Indonesia itu, model dari idola saya, Minke, mengatakan, tugas pers adalah mengawal pikiran rakyat. Tanpa kerendahan hati, pers tak bakal mampu mengawal pikiran rakyat.

Jakarta, 28 Mei 2014

Jika memang berkas itu ada, kenapa pula mereka tak menyerahkannya pada lembaga negara yang memiliki wewenang untuk menindaklanjuti isu itu lebih lanjut. KPU tak pernah menerima berkas laporan yang dapat membuktikkan kewarganegaraan ganda Prabowo, begitu kata dua orang Komisioner KPU. Surat Keterangan Kementerian Hukum dan HAM pun menyatakan, Prabowo WNI tulen. Kemudian saya bertanya pada seorang teman wartawan, dari mana isu itu berasal. Dari TEMPO, katanya. Ah! Sejak mula memang media itu sudah memilih pihak. Walaupun saya bukan pendukung Sang Patriot, si tukang culik di zaman Orba itu, tapi keberpihakan media tersebut pada salah satu kandidat jelas membikin saya mual—siapa tak tahu bahwa pendirinya, bersama dengan sejumlah pengembang bisnis properti, jadi bagian dari proyek revitalisasi Kota Tua Gubernur. Prabowo didakwa, pernah menerima kewarganegaraan Yordania, dengan demikian, ia tak sah jadi calon presiden. Tapi bukti untuk menguatkan dakwaan itu hanya berkicau lantang di media sosial.  Kewarganegaraan Yordania Prabowo pernah dilansir Associated Press pada tahun 1998, katanya. Tapi bukankah yang berkepentingan telah lolos sebagai cawapres pada Pemilu 2009 yang lalu? Kenapa baru sekarang, baru saat ia melenggang jadi bakal capres, isu tersebut begitu gencar dikicaukan? Jika berkas itu benar-benar tak diserahkan, maka benar adanya, bahwa isu itu tak lain adalah salah satu bentuk dari kampanye hitam belaka. Dan tentu akan sangat menyedihkan, mengetahui bahwa kampanye hitam tersebut tumbuh dan berkembang begitu subur di kalangan para penggiat demokrasi, sebab demokrasi yang matang tak butuh kampanye hitam…

 

Jakarta, 26 Mei 2013

Ini karya, bukan? Sepertinya bukan, sebab gedung ini tengah direnovasi. Bisa jadi ini bagian dari renovasi gedung. Begitulah saya dan teman saya dibikin agak bingung di hadapan karya Andi Gunawan, Doubting Bodies, dalam pameran Manifesto No. 4, bertajuk, Keseharian, di Galeri Nasional. Doubting Bodies adalah sebidang tembok dengan posisi miring, yang terletak tepat di hadapan pintu masuk Gedung A Galnas, di mana pada tempat itu, biasanya, juga terdapat sebidang tembok—yang tentu saja tak dalam keadaan miring. Entah ke mana perginya tembok yang biasanya ada di sana hingga Andi bisa meletakkan karyanya di tempat itu. Di hadapan Doubting Bodies, saya dan teman saya benar-benar dibikin doubt, dan bagi saya, itu adalah karya paling jenius dalam pameran bertajuk Keseharian itu. ia mempermainkan pikiran pemandang, tanpa membawa konsep yang mengawang-awang di langit ketujuh, seperti konsep-konsep berbau isu sosial dan politik, misalnya. Bagi saya, yang sehari-hari bergelut dengan isu politik, Doubting Bodies adalah karya yang segar pun sedap untuk dipandang. Kesegaran macam itu adalah alasan bagus untuk berkunjung ke galeri seni. Kemudian dua orang teman saya berpaling ke karya berikutnya sementara saya masih berada di hadapan Doubting Bodies. Terdengar nada decak kagum dari mulut mereka, dan arah pandang saya pun menyusul ke hadapan tiga bidang lukisan yang tengah mereka kagumi. Jika saya adalah seorang murid sebuah sanggar melukis, barangkali saya pun bisa segera terpukau pada teknik realis dalam karya Tandya Rachmat dan Cecep M. Taufik. Tapi sayangnya saya adalah sarjana seni rupa, dan tiga karya dari dua seniman itu tampak biasa-biasa saja, sebab keindahan karya-karya itu hanya berhenti pada kesempurnaan teknis. Dan saya pun segera berpaling ke balik tembok bikinan Andi, di mana di sana terdapat sebuat set studio berkarya  M.Zico Abaiquni. Latar belakang hitam pada tembok dan beberapa batang lampu neon yang diletakkan sembarangan, hingga membuat pendar cahaya pada ruang bikinan itu memantul tak beraturan, menghadirkan kesan kesunyian sekaligus kemegahan. Sepertinya, Zico hendak menyampaikan pada pemandang, sebuah dunia yang sunyi yang berada di balik hingar bingar perayaan seni rupa Indonesia. Hal ini mengingatkan saya pada pesan rektor saya setahun lalu, usai saya menyelesaikan tugas akhir. Selamat datang di dunia seni rupa Indonesia yang sunyi, dan selamat berjuang dalam kesunyian itu, katanya. Yah, begitulah memang keadaannya dunia seni rupa, sunyi, dan kini saya terdampar di dunia politik yang kelewat gaduh. … ..

Jakarta, 25 Mei 2014

Hari ini giliran bakal pasangan Prabowo-Hatta yang menjalani pemeriksaan kesehatan di RSPAD Gatot Subroto. Pengawalan tampak lebih ketat. Ada dua lapis pagar manusia yang harus saya lewati terlebih dahulu sebelum saya bisa berada di antara wartawan lain untuk mendengar Prabowo bicara. Saya tak terbiasa menggunakan tanda pengenal, demikian juga pada hari ini, dan langsung nyelonong masuk melewati dua orang polisi militer yang berjaga di depan pintu.pagar, beberapa meter dari lapisan pertama pagar manusia. Salah seorang dari mereka memanggil. Dari mana, Mas? tanya dia. Pers, jawab saya pendek, tanpa menatap tampang si pemanggil. Pakai dong, ID Cardnya! Saya tak gubris teguran itu, dan langsung berlari ke hadapan pria-pria gagah berseragam yang saling mengaitkan lengan satu sama lain, membentuk pagar manusia. Saya telat datang, Prabowo sudah hampir menutup pernyataannya usai menjalani pemeriksaan kesehatan, dan pengawalan begitu ketat. Saya tak mendengar satu kata pun darinya. Hari ini ada lebih banyak tentara dan polisi dari kemarin. Pak, SDA (Surya Dharma Ali) gimana, Pak? pekik beberapa wartawan. Dan ia, ‘Sang Patriot’, yang akrab dengan isu pelanggaran hak asasi manusia itu, bungkam, meninggalkan podium, berjalan melalui pagar manusia sambil melambai-lambaikan tangan, menuju mobil pribadinya. Sejumlah tentara dan veteran yang menonton Sang Patriot dari balkon lantai dua rumah sakit bertepuk tangan dan bersorak-sorai. Maju terus, Pak! seru mereka.

Satu hal yang saya pikirkan hari ini adalah polisi militer di depan pagar, dan barisan manusia berseragam cokelat yang mengawal Sang Patriot. Kenapa mereka sepertinya begitu takut pada mereka yang tak berseragam?

Seorang pengamat kepolisian yang juga adalah mantan polisi di masa Orde Baru mengatakan, dari dulu sampai sekarang strategi aparat kemanan itu sama saja, dari zaman Harto sampai sekarang podho ae, polisi negara. Polisi negara adalah polisi yang bekerja dan mengabdi untuk negara (bukan negeri, sebab sejak Orba, negara Indonesia telah menjadi perusahaan multinasional). Dengan demikian, majikan mereka adalah negara dan tugas utama mereka adalah menjaga stabilitas negara. Kita tahu bagaimana kamus Orba menerjemahkan kalimat itu; menjaga stabilitas negara. Menjaga dari siapa? Siapa musuh negara? Mengutip kaum Anarkis; musuh negara adalah masyarakat sipil. Jadi, negara dijaga dengan senjata, dari musuhnya yang tak bersenjata. Dan itu nyata sekali terlihat pada hari ini.

Di tempat itu hanya ada wartawan, dokter, dan aparat keamanan. Perbandingannya kira-kira, dua aparat untuk satu wartawan atau dokter. Apa yang mereka takuti dari para wartawan? Satu-satunya peluru wartawan adalah tulisan, dan tulisan tak dapat dilawan dengan bedil atau otot. Atau jangan-jangan mereka tak takut, melainkan membenci orang-orang yang tak berseragam. Mereka iri.

Dalam otobiografinya yang berjudul, Jalan Panjang Menuju Kebebasan, Nelson Mandela mengatakan, penjara tak hanya merampas kebebasan, melainkan juga merampas identitas, jati diri dari si manusia itu sendiri, dengan seragam. Jauh-jauh hari Victor Hugo juga mengatakan hal yang sama dalam karyatamanya, Les Miserables—sebuah karya yang membuat ia dihujat banyak orang, sebab banyak orang menangis oleh karenanya—di mana Javert, seorang inspektur, menyangkal nama Jean Valjean dan terus memanggilnya, 24601—nomor urut Valjean sebagai tahanan. Pramoedya menarik sudut pandang itu ke arah sebaliknya. Dalam sebuah catatan yang saya tak ingat judulnya, kurang lebih ia mengatakan begini, saya hanya ingat dari kesatuan apa dia berasal, saya tak lihat siapa namanya. Lagipula itu tak penting, sebab yang melakukan itu bukan dia, melainkan korpsnya. Catatan itu menceritakan tentang kekerasan fisik yang ia terima dari seorang tentara di P. Buru. Begitulah, satu orang manusia dalam seragam bakal melakukan apa yang seragam itu harus lakukan. Jadi, dalam sangkar yang bernama penjara, baik narapidana maupun petugas penjaganya sesungguhnya sama-sama orang tahanan. Mereka ditahan oleh seragam mereka masing-masing.

Maka saya tak akan berprasangkan buruk atau membenci mereka yang berseragam, sebab mereka perlu dikasihani, atas terampasnya jati diri demikian kebebasan mereka. Diberkatilah kita yang tak berseragam.

Jakarta, 23 Mei 2014

Menunggu adalah kegiatan paling membosankan, sampai kemudian kau bisa bersahabat dengan waktu. Menjelang sore tadi saya menunggu bakal calon pasangan capres dan cawapres, Jokowi-JK, menyelesaikan pemeriksaan kesehatan untuk memenuhi syarat pendaftaran calon presiden dan wakil presiden 2014. Pemeriksaan dilakukan di RSPAD Gatot Subroto, Senen, dan berlangsung sejak pukul tujuh pagi hingga menjelang maghrib. Sebelumnya saya ke DKPP, lagi-lagi untuk menghadiri sidang konyol dari caleg gagal yang tak puas dengan hasil pileg kemarin. Pemeriksaan kesehatan Jokowi dan JK baru selesai menjelang maghrib. Saya punya banyak waktu untuk melakukan kegiatan paling membosankan itu; menunggu. Tapi toh saya sudah bisa bersahabat dengan waktu, dengan menyediakan sesajen berupa rokok dan secangkir kopi seharga tiga ribu, juga sebuah buku. Kali ini saya ditemani Tan Malaka, dalam Jail jilid ketiganya, di bawah atap halte RSPAD. Di samping saya duduk seorang polisi—melihat emblem di seragamnya, sepertinya ia punya pangkat tinggi—mengobrol dengan seorang tukang ojek dan penjual kopi. Obrolan mereka tak bisa ditolak, sekeras apapun Tan Malaka berteriak.  Sementara Si Kuntet dari Bukit Tinggi dalam buku merumuskan perbedaan revolusi di Perancis, Rusia, dan Indonesia, Pak Polisi di samping saya mengulang ucapan Sukarno, Ganyang Malaysia! Menurutnya, Presiden Indonesia ke depan harus berani mengambil tindakan keras terhadap Malaysia. Kalo perlu perang kita perang sekalian, kata dia. Negara kecil begitu, sekali kepung gelagapan, dia! Seandainya Mahkamah Internasional menentang pun kita lawan sekalian, begitu kata dia. Si tukang ojek manggut-manggut, si penjual kopi mulai menyalakan sebatang rokok untuk yang entah keberapa kalinya, dan pak polisi terus bercericau. Coba saya perhatikan lagi penampilan pak polisi itu. Saya perkirakan usianya lebih tua dari Ayah saya. Jadi, pak polisi ini tak lama lagi bakal pensiun….dan ia berbicara soal perang. Barangkali karena tak mendapatkan tanggapan yang antusias baik dari si tukang ojek maupun si penjual kopi, obrolan pun bubar. Seandainya mereka mengobrol soal pelacur-pelacur Senen, saya yakin percakapan bakal jadi panjang dan tak berjalan searah.

 

Jakarta, 22 Mei 2014

Beberapa caleg datang dari kalangan pengusaha yang sesungguhnya tak siap betul untuk menjadi seorang pejabat publik. Contohnya hari ini. Seorang caleg gagal dari Sulawesi Tengah berusaha menekan DKPP untuk memberi sanksi pada jajaran Panwaslu di daerahnya, sebab ia merasa bahwa laporannya tak ditindaklanjuti dengan serius. Ia melaporkan bahwa seorang caleg, yang berasal dari partai dan dapil yang sama dengan dirinya, telah melakukan kegiatan kampanye dengan menggunakan fasilitas negara, dalam hal ini Balai Desa. Jajaran Panwas menjawab, mereka telah menindaklanjuti laporan darinya hingga ke tingkat kepolisian, dan kepolisian menghentikan penyidikan terhadap kasus itu, sebab caleg yang diduga melakukan kampanye tak terdaftar dalam Surat Keputusan sebagai pelaksana kampanye—daftar ini diterbitkan oleh KPU setempat. Seandainya pelapor tahu betul bagaimana regulasi penanganan pelanggaran hukum pemilu, ia tak bakal datang ke DKPP dan mengajukan jajaran Panwaslu sebagai pihak Teradu. Kasus macam ini sangat klise, terjadi di mana-mana; di mana pihak kepolisian menghentikan kasus pelanggaran hukum pemilu dengan alasan ini-itu, sebab pemilu melibatkan banyak hantu yang bekerja secara sporadis. Jejak mereka begitu susah dilacak, dan mereka, kepolisian, tak mau repot—bagaimana caranya mengawasi jutaan opurtunis yang bergerak bak kutu loncat, dari caleg satu ke yang lain, sementara, kau tahu, ada sekitar lima belas ribu caleg untuk satu partai peserta pemilu pada tahun ini? Seandainya pun bau busuk kutu-kutu itu sampai terendus, toh mereka punya banyak uang, juga kekuasaan—sebab di negeri ini, uang berbanding lurus dengan kekuasaan—untuk membungkam aparat penegak hukum. Si caleg gagal berkeras agar laporannya ditangani sampai tuntas. Di sisi lain penyelenggara, DKPP dan Panwas,  tak lagi punya wewenang ketika kasus telah sampai ke tangan kepolisian, sebab Undang-Undang telah menyatakan demikian. Anda punya fraksi di parlemen, dan mereka yang bikin Undang-Undang. Kami menjalankan sesuai dengan apa yang bos-bos Anda di parlemen itu tetapkan. Demikian kata Ketua Majelis Sidang. Demikianlah, caleg-caleg dibikin tampak tolol oleh regulasi yang bos-bos mereka sendiri rancang. Regulasi yang tak mereka pahami, sebab mereka hanya pengusaha.

Jakarta, 21 Mei 2014